BLORA - Fantastis, penghasilan dari produksi sumur minyak rakyat di bawah naungan Koperasi Blora Migas Energi (BME) mencapai Rp 2,8 miliar perbulan. Jumlah ini berpotensi terus naik seiring makin banyaknya sumur minyak rakyat yang bakal berproduksi.
Ketua Koperasi BME, Sutrisno menjelaskan saat ini belum semua wilayah di bawah naungan BME berproduksi. Baru sumur minyak rakyat dari Desa Plantungan yang sesuai dan telah mengirim ke Pertamina.
Sebab ada ketentuan yang harus dipenuhi. Seperti kadar air dalam minyak yang harus sesuai standar.
Desa Plantungan sudah mengirim ke Pertamina sejak Mei. Lalu mulai menerima pendapatan Juni. Sebab Pertamina mengkalkulasi bulanan.
"Pada Juni, nilai transaksi dari Desa Plantungan mencapai sekitar Rp 2,8 miliar," bebernya.
Menurutnya produksi minyak dari Desa Plantungan selama Juni mencapai 380 ribu liter. Dengan rata-rata produksi harian 15 ribu liter.
Saat ini, pihaknya juga tengah mengajukan pencairan untuk produksi selama Juli. Dalam setengah bulan, produksi dari Desa Plantungan tercatat mencapai sekitar 175 ribu liter.
Dengan harga beli per liter untuk periode Juli ditetapkan sebesar Rp7.498 per liter, maka potensi pendapatan di atas Rp 1 miliar.
Sutrisno menjelaskan, potensi produksi di sejumlah wilayah lain sebenarnya cukup besar. Namun, masih terdapat sejumlah kendala teknis yang membuat minyak belum dapat dipasarkan.
Di Desa Ngiyono, Kecamatan Japah, misalnya, kandungan air dalam minyak masih cukup tinggi sehingga belum memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan.
"Sebenarnya potensi produksinya cukup melimpah, tetapi kadar airnya masih belum memenuhi standar," jelasnya.
Sementara itu, di Desa Botoreco, Kecamatan Kunduran, kualitas minyak dinilai sudah baik. Namun, volume produksi belum mencapai syarat minimal pengiriman, yakni 5.000 liter, sehingga distribusi belum dapat dilakukan.
Perkembangan positif juga terjadi di Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen. Setelah dilakukan perbaikan, salah satu sumur mampu menghasilkan sekitar dua bul dalam waktu lima hari. Capaian tersebut menjadi sinyal awal meningkatnya produktivitas sumur di wilayah tersebut. (tos)
Editor : Eko Santoso