BLORA- PCNU Kabupaten Blora lewat program pendampingan kepada 139 petani, kini telah menanam padi organik di 41,3 hektare lahan. Kemarin, salah satu petani di Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban panen.
Lahan yang dipanen itu sekitar 4.000 meter persegi. Dengan hasil sekitar 2 ton gabah.
Panen padi organik itu dihadiri Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh dan Bupati Blora Arief Rohman di Desa Wado Kecamatan Kedungtuban.
Di balik panen tersebut, terdapat ekosistem pertanian yang tengah dibangun oleh PCNU Blora melalui pendampingan budidaya, penguatan kelembagaan petani, hingga pemasaran hasil panen.
Pada musim tanam pertama tahun 2026, total produksi yang dihasilkan petani binaan diperkirakan mencapai sekitar 120 ton gabah kering panen (GKP). Namun, sebagian besar hasil produksi masih digunakan untuk konsumsi rumah tangga petani karena mayoritas peserta program merupakan petani gurem dengan kepemilikan lahan yang relatif terbatas.
Meski demikian, sebagian hasil panen telah berhasil masuk ke rantai pemasaran yang lebih terstruktur. Melalui Koperasi Berkah Jagad Nusantara milik LPP PCNU Blora, hasil panen petani dibeli secara langsung sehingga memberikan kepastian pasar bagi petani.
Pada musim panen tahun ini, koperasi tersebut diperkirakan menghimpun sekitar 19 ton gabah dari petani binaan untuk diproses dan dipasarkan lebih lanjut.
Gus Arief sapaan akrab Bupati Arief Rohman menilai, model yang dikembangkan PCNU dan LPPNU Blora menjadi contoh bagaimana sektor pertanian tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir.
"Ini penting agar petani mendapatkan nilai tambah yang lebih besar," kata Arief Rohman.
Menurut Gus Arief, pertanian organik memiliki prospek yang semakin menjanjikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan sehat dan ramah lingkungan. Selain itu, sistem pertanian organik juga dinilai mampu menjaga kualitas tanah dan mendukung keberlanjutan produksi pangan jangka panjang.
"Saat ini pemerintah sangat konsen pada ketahanan pangan dan energi. Karena itu pengembangan pertanian organik perlu terus diperluas dan diperkuat. Kami ingin sektor pertanian menjadi semakin produktif sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan petani," ujarnya.
Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidillah Shodaqoh mengapresiasi langkah PCNU Blora yang tidak hanya mendorong peningkatan produksi pertanian, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui pendekatan kelembagaan.
Menurutnya, keberhasilan program pertanian tidak cukup diukur dari besarnya hasil panen, melainkan dari kemampuan petani memperoleh akses teknologi, pendampingan, dan pasar yang berkelanjutan.
Dengan luas lahan binaan yang terus bertambah dan sistem pemasaran yang mulai terbentuk, Blora berupaya menempatkan pertanian organik bukan sekadar gerakan budidaya, tetapi juga sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi pedesaan dan ketahanan pangan daerah. (tos)
Editor : Eko Santoso