Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Layanan Droping Air Terganggu Akibat Harga Pertamina Dex Naik

Arif Fakhrian Khalim • Kamis, 2 Juli 2026 | 18:21 WIB
BANTUAN: Pemberian air bersih kepada warga di Desa Kamolan, Kecamatan Blora Kota oleh
BPBD Blora tahun lalu disebrbu warga.
BANTUAN: Pemberian air bersih kepada warga di Desa Kamolan, Kecamatan Blora Kota oleh BPBD Blora tahun lalu disebrbu warga.
BLORA- Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamina Dex yang semula di angka Rp14.500 per liter, pada Maret 2026 mengalami kenaikan harga Pertamina Dex di angka Rp24.500 per liter. Hal tersebut membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora khawatir
akan mengganggu pelayanan droping air pada masyarakat.

 

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Blora Widodo mengatakan, BPBD Blora memiliki lima armada truk tangki yang seluruhnya menggunakan Pertamina Dex. Armada tersebut digunakan untuk melayani distribusi air bersih saat musim kemarau.

Menurutnya, kenaikan harga BBM dapat berpotensi meningkatkan biaya operasional. Sehingga dapat memengaruhi pelayanan dropping air bersih kepada masyarakat apabila tidak diantisipasi.

"Dampaknya sangat vital, untuk 2026 ini BPBD menganggarkan sekitar 1.200 tangki untuk droping air. Permasalahan harga BBM bisa mengurangi jumlah air yang didropping ke masyarakat apabila anggarannya terbatas,"ucapnya.

Pihaknya mengaku, kenaikan harga BBM menjadi dilema ketika berhubungan dengan pelayanan masyarakat. Satu sisi pemerintah dituntut melakukan efisiensi anggaran, namun di sisi lain pelayanan kepada masyarakat tidak boleh terhenti.

"Kalau efisiensi operasional kantor mungkin masih bisa. Tapi kalau pelayanan masyarakat, apalagi nanti sudah ada permohonan dropping air terus tidak dikirim karena kendala BBM, kan juga tidak mungkin," katanya.

Apabila keterbatasan anggaran benar-benar terjadi saat musim kemarau, BPBD akan menerapkan skala prioritas dalam penyaluran air bersih. Menurut Widodo, BPBD Blora akan mengoptimalkan dukungan dari perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Ia bersedia memberikan data daerah terdampak kepada perusahaan yang ingin membantu distribusi air bersih.

"Kami juga bisa mengawal bantuan dari pihak luar. Mereka bisa menggunakan armada kami atau armada swasta untuk mendistribusikan air ke masyarakat," jelasnya.

Wilayah yang mengalami krisis air paling parah akan didahulukan, sementara daerah lainnya akan dibantu melalui kolaborasi dengan pihak ketiga maupun perusahaan yang menyalurkan bantuan CSR.

 

"Kita tidak membatasi pelayanan, tetapi memang perlu menentukan prioritas bagi daerah yang sangat membutuhkan terlebih dahulu. Nanti pihak lain juga bisa diarahkan membantu wilayah- wilayah tertentu,"ujarnya.

Widodo mengatakan pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Blora terkait solusi pembiayaan operasional armada, termasuk kemungkinan adanya kebijakan khusus apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.

"Kalau memang nanti prediksinya kemaraupanjang, mudah-mudahan pada perubahan anggaran ada perhatian khusus karena ini menyangkut pelayanan dasar kepada masyarakat,"ungkapnya.


Pasalnya, sebelum harga BBM naik, biaya operasional BBM untuk satu armada tangki berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari untuk melayani wilayah yang relatif dekat. Namun dengan kenaikan BBM, anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp500 ribu per hari. Dalam sehari, satu armada mampu melakukan hingga tiga kali dropping air bersih. Namun jumlah tersebut bisa berkurang apabila lokasi tujuan berada jauh dari sumber air sehingga konsumsi BBM menjadi lebih besar.

"Kalau jalannya jauh tentu kebutuhan BBM juga lebih banyak. Itu yang menjadi tantangan ketika harga BBM naik," tuturnya. (ari)

Editor : Eko Santoso
#blora #kekeringan