BLORA – Kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) solar hingga saat ini, masih jadi jeritan yang belum berkesudahan bagi para pengusaha transportasi dan petani di Kabupaten Blora.
Untuk mendapatkan BBM bersubsidi itu, harus antre panjang. Seperti yang terjadi kemarin di SPBU Mlangsen, Blora.
Di pom bensin itu, tampak terjadi pemandangan antrean truk dan mobil sepanjang 150 meter.
Selain antrean mobil dan truk, juga ada pemandangan antrean petani membeli solar menggunakan jeriken secara terbuka.
Linda, salah satu orang yang antre solar mengaku, sudah satu jam menunggu giliran untuk mengisi BBM seharga Rp 6.800 itu. Ia terpaksa ikut antre untuk kebutuhan bahan bakar alat pertanian traktor dan combin miliknya.
“Baru sekitar satu jam antre dengan orang-orang di SPBU. Antre di SPBU ini, biasanya bawa dua galon bekas air minum. Dengan total isi 30 liter kurang sedikit. Atau dengan pembelian Rp 200 ribu,” ucapnya.
Ia mengaku, membeli solar setiap dua hari sekali. Itu pun selalu antre di SPBU. Kemarin, ada 20 jeriken yang antre sebelum Linda datang.
“Setiap orang yang mau isi solar untuk alat pertanian, dibebaskan membawa alat apa saja. Tapi harus sesuai dengan angka yang ada di barcode. Ke SPBU harus bawa barcode juga,” ujarnya.
Senada dengan diungkapkan Sumarno. Ia mengantre selama dua jam untuk mendapat BBM solar subsidi. Dia antre sejak pukul 12.00 hingga pukul 14.00.
Ia juga menggunakan jeriken berkapasitas 15 liter yang akan digunakan untuk bahan bakar traktor dan penggilingan beras.
“Kalau musim panen dan tanam gini, solar memang sangat dibutuhkan petani. Tapi ya gini, harus antre panjang. Karena sopir truk dan mobil juga antre,” katanya.
Ia juga terpaksa tidak menuju ladang kemarin. sebab, wantunya habis untuk mengantre solar di SPBU tersebut. Sumarno juga harus berdesak-desakan dengan orang untuk menaruh jeriken miliknya.
“Kalau pas antre solar ini, ya bisa hari ini (kemarin, Red) tidak ke sawah. Soalnya waktunya ke sawah sudah habis dibuat antre solar,” ucapnya.
Di sisi lain, Paijo salah satu supir truk hanya bisa pasrah menunggu giliran mengisi solar selama dua setengah jam. Ia mengakui, selain antre dengan supir, ada petani yang membawa jeriken untuk diisikan ke traktor.
“Sudah dua jam lebih saya menunggu. Soalnya tadi solar sempat kosong dan ada pengisian ulang. Kalau misal orang yang membawa jeriken itu, tidak dikasih ya kasihan juga. Terus traktor mereka gimana?,” tanyanya.
Ia memaklumi sesama yang mengantre solar. Baik sopir maupun petani. Sebab, mereka sama-sama mencari uang. “Sama-sama membutuhkan solar. Bedanya mereka di sawah, kami di jalan,” katanya.
Paijo berharap, untuk BBM jenis solar itu tidak ikut naik, seperti Pertamax dan Pertamina Dex.
“Seumpama solar naik, itu malah jadi ribet dan masalah semua. Karena ongkos angkut dan muat itu harus mengikuti (ikut naik). Sedangkan jika ongkos angkut tidak mengikuti, ya bayaran sopir berkurang drastis,” tuturnya. (ari/lin)
Editor : Ali Mustofa