BLORA- Pemutaran film Pesta Babi di Blora yang terselenggara pada Sabtu (09/05) malam berlangsung lancar. Meski di sejumlah daerah mendapatkan represifitas seperti pembubaran.
Di Blora acara nonton film Pesta Babi diikuti masyarakat dari berbagai elemen. Pelajar, guru, aktivis hingga orang Papua yang menempuh pendidikan di Blora.
Setidaknya ada lima orang Papua yang turut acara nonton film tersebut. James, Melanesia dan Chris.
James menyebut film itu menggambarkan situasi Papua terkini. Alamnya yang hancur dan nasib warga asli yang makin memprihatinkan.
"Film ini sangat menceritakan tentang Papua yang benar-benar terjadi di Papua," katanya.
Ia tinggal di Timika. Dekat dengan area konsensi Freeport. Daerah dia terdampak. Limbah dari pertambangan itu masuk ke pemukiman warga.
"Kita untuk bertani susah. Karena limbah yang turun dari Freeport merusak alam kita," tuturnya .
Melanesia menuturkan hutan-hutan di Papua banyak dibabat seiring banyaknya perusahaan masuk. Baik pertambangan, perkebunan dan lainnya.
"Kita hidup dengan alam. Tetapi dengan masuknya perusahaan, menggusur hutan, kita bingung cari makan di mana. Di Papua pendidikan kurang. Kita tergantung alam," tambahnya.
Sementara mahasiswa dari Papua lainnya, Chris menerangkan masyarakat Papua hidup dengan menanam, berburu di hutan dan mencari ikan di laut. Namun hal itu kini makin sulit dilakukan.
"Di tempat saya, dampaknya ke kualitas air. Seperti di pantai kami, airnya sudah bukan air pantai umumnya. Butek," bebernya.
Hal itu lantaran adanya limbah yang terbawa arus. Atau aktivitas pertambangan dan penggundulan hutan yang makin masif oleh alat-alat berat. (tos)
Editor : Eko Santoso