BLORA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora terus berupaya menangani fenomena tanah gerak di Dukuh Ngetrep, Desa Tutup, dengan pemasangan turap kayu. Namun, penanganan tersebut dinilai belum optimal dan membuat lima rumah terancam ambrol.
Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, mengatakan pihaknya bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana sebelumnya telah melakukan penanganan awal dengan memasang konstruksi turap kayu di lokasi longsor. Meski demikian, masih banyak laporan dari masyarakat terkait pergerakan tanah yang terus berlangsung.
"Penanganan darurat sudah kami lakukan bersama BBWS Pemali Juana dengan membuat turap kayu. Karena masih terjadi hujan, hasilnya belum optimal dan masih ada titik yang longsor kembali,” ucapnya.
Surat menambahkan, pihaknya akan berkoordinasi kembali dengan BBWS Pemali Juana untuk melakukan inspeksi lapangan guna menentukan langkah lanjutan.
"Kami akan melakukan pengecekan kembali dan kajian teknis agar penanganan ke depan bisa lebih efektif," jelasnya.
Menurutnya, fenomena tanah gerak dalam beberapa hari terakhir masih terus terjadi. Bahkan, satu rumah dilaporkan terasnya ambrol, sementara beberapa titik lainnya kembali mengalami amblesan.
“Untuk penanganan jangka panjang, kami akan terus berkoordinasi dengan BBWS Pemali Juana dan pemerintah pusat. Penanganan permanen membutuhkan kajian teknis serta dukungan anggaran yang besar,” ujarnya.
“Saat ini, jumlah rumah terdampak di Dukuh Ngetrep diperkirakan antara 5 hingga 10 rumah,” imbuhnya.
Dari jumlah tersebut, Surat menjelaskan bahwa dua rumah sudah lebih dulu ditinggalkan, sementara tiga rumah lainnya kini terancam akibat pergerakan tanah susulan.
Ia juga menyebutkan salah satu penyebab utama tanah ambles adalah saluran irigasi di area tersebut yang belum tertata dengan baik. Oleh karena itu, pihaknya mengajak pemerintah desa, kecamatan, serta instansi terkait untuk mengedukasi masyarakat agar mampu mengendalikan aliran air permukaan.
“Perlu ada pengaturan aliran air dari permukiman supaya tidak masuk ke area longsor. Ini penting agar tidak mempercepat amblesan," jelasnya. (ari/mah)
Editor : Mahendra Aditya