BLORA- Kenaikan harga kedelai membuat perajin tempe memperkecil ukuran. Hal itu dilakukan untuk tetap menjaga harga pasar. Sebab jika menaikkan harga, resiko kehilangan pelanggan.
Perajin tempe di Dukuh Sambong Desa Patalan Najib Nur Roihan mengaku untuk membuat tempe diperlukan kedelai impor. Sementara saat ini terjadi konflik di timur tengah yang mempengaruhi jalur perdagangan.
Atas dasar itu kenaikan menjadi hal yang tak terhindarkan. Untuk itu pihaknya membuat strategi pemasaran.
"Kenaikan harga 10-20 persen," katanya.
Biasanya sebelum naik, harga kedelai per karung atau 50 kilogram yakni Rp 450 ribu. Namun kini sudah mencapai Rp 530 ribu.
"Kenaikan ini bertahap, sejak bulan februari dari yang awal 450 ribu dan saat ini 530 ribuan," tuturnya.
Meski naik pihaknya tidak khawatir. Lantaran kedelai tak langka. Masih bisa mudah ditemukan di pasaran.
"Saat ini untuk menyikapinya kita mengecilkan ukuran, nanti jika kita naikan harganya akan bergejolak pada konsumen maupun tengkulak(distributor)," bebernya.
Najib mengaku sebagai saat ini produsen tempe juga terdapat kenaikan harga plastik yang melambung tinggi, namun pihaknya sebagai produsen terdampak dua bahan tersebut sehingga mengecilkan ukuran tempe.
"Dengan kondisi saat ini kita tetap menjaga kualitas untuk ketebalan pelanggan tidak mempersoalkan, karena pelanggan sudah biasa besar kecilnya tempe saat ini," jelasnya.
Ia menambahkan saat ini bisa memproduksi tempe hingga 70 Kg perharinya dan untuk pemasaran ia memaparkan ke tetangga desa dan pasar pasar terdekat.(tos)
Editor : Eko Santoso