BLORA – Tradisi sedekah bumi di Desa Jiken, Kecamatan Jiken, berlangsung meriah dan penuh antusiasme warga.
Ritual yang dikenal dengan sebutan sawuran ini kembali digelar dan menjadi magnet bagi masyarakat setempat.
Seperti sedekah bumi pada umumnya, warga menyiapkan gunungan berisi hasil pertanian serta nasi berkatan yang dibungkus daun jati.
Gunungan tersebut kemudian dipikul dan diarak keliling kampung, diiringi kesenian Barongan Blora yang menambah semarak suasana.
Arak-arakan berhenti di bawah pohon besar di lapangan desa.
Gunungan lalu diletakkan di lokasi yang telah disiapkan dan langsung dikerumuni warga.
Seorang sesepuh memimpin doa sebagai ungkapan syukur, meski sebagian warga terlihat sudah tak sabar menunggu prosesi selesai.
Beberapa warga bahkan sempat mencoba mengambil isi gunungan sebelum doa rampung, sehingga sesepuh harus beberapa kali mengingatkan agar menunggu hingga doa selesai dipanjatkan.
Begitu doa berakhir, suasana langsung berubah riuh.
Warga berebut mengambil isi gunungan. Uniknya, nasi berkat yang didapat tidak hanya dibawa pulang, tetapi dilemparkan kepada warga lain.
Tawa, sorak, dan teriakan pun pecah ketika masyarakat saling melempar berkat hingga nasi dan hasil bumi berhamburan.
Ketua panitia sedekah bumi, Muhammad Ngatmin, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas kesehatan, rezeki, serta hasil panen yang melimpah.
Kegiatan ini rutin digelar setiap tahun usai masa panen sebagai wujud syukur kepada Allah.
Ia menambahkan, gunungan yang diperebutkan berisi berbagai hasil bumi seperti nasi berkatan, jajanan, hingga buah-buahan hasil pertanian warga.
Keunikan sedekah bumi di Desa Jiken terletak pada tradisi sawuran yang wajib dilakukan.
Lempar-lemparan berkat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan tersebut.
Salah satu warga, Enjel, mengaku selalu menantikan acara tahunan ini karena kemeriahan barongan dan tradisi lempar berkat.
Meski demikian, ia memilih menonton dari kejauhan karena khawatir berdesakan saat warga berebut gunungan. (tos)