Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pulen dan Lezat, Beras Organik Mentik Susu Pemuda Desa Sumber Bikin Bupati Blora Terpikat

Ali Mustofa • Senin, 9 Maret 2026 | 10:25 WIB

INOVATIF: Bupati Blora Arief Rohman (dua dari kiri) saat memamerkan beras organik inovasi petani milenial di Blora.
INOVATIF: Bupati Blora Arief Rohman (dua dari kiri) saat memamerkan beras organik inovasi petani milenial di Blora.

BLORA – Inovasi yang dilakukan para pemuda di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, berhasil menarik perhatian Bupati Blora, Arief Rohman.

Produk beras organik varietas Mentik Susu yang mereka kembangkan mampu memikat hati orang nomor satu di Kabupaten Blora tersebut karena kualitas rasanya yang dikenal pulen dan lezat.

Beras organik itu merupakan hasil budidaya para petani milenial yang tergabung dalam Asosiasi Petani Organik Selaras Alam Sejahtera di Desa Sumber.

Baca Juga: Kebakaran Pasar Darurat Ngawen Blora Hanguskan Lapak Pedagang, Kerugian Capai Rp 2,2 Miliar, Ini Dugaan Penyebabnya

Komoditas tersebut dikembangkan melalui sistem pertanian organik yang dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan oleh para petani muda di desa tersebut.

Bupati Arief Rohman mengaku menerima kiriman beras Mentik Susu tersebut secara langsung dari para petani milenial.

Ia pun menyampaikan apresiasi atas semangat generasi muda yang mau terjun di sektor pertanian dan mengembangkan metode pertanian yang lebih ramah lingkungan.

“Alhamdulillah saya mendapat kiriman beras organik varietas Mentik Susu dari para petani milenial di Desa Sumber. Saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi yang tinggi atas dedikasi mereka dalam mengembangkan pertanian organik di desa,” ungkap Arief Rohman.

Menurutnya, produk pangan yang dihasilkan melalui sistem pertanian organik memiliki berbagai keunggulan.

Salah satunya adalah daya simpan yang relatif lebih lama dibandingkan hasil pertanian konvensional.

Selain itu, metode pertanian organik juga dinilai mampu menjaga keseimbangan ekosistem serta meningkatkan kualitas tanah.

Baca Juga: Lewat Jaringan Adkasi, Siswanto Buka Peluang Kerjasama Pabrik Kapur dan Gas di Blora Merambah Sulawesi

Ia menilai bahwa kesehatan dan kesuburan tanah merupakan faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

Oleh karena itu, tidak sedikit petani yang mulai beralih dari sistem konvensional menuju praktik pertanian organik yang lebih berkelanjutan.

“Pertanian organik dapat menjaga kesehatan tanah sekaligus mempertahankan kesuburannya. Selain itu, metode ini juga bisa menekan biaya produksi dalam jangka panjang sehingga memberikan keuntungan lebih bagi petani,” jelasnya.

Arief Rohman juga mengaku telah mencoba beras tersebut setelah dimasak menjadi nasi.

Menurutnya, kualitas beras organik Mentik Susu dari Desa Sumber sangat baik dan memiliki cita rasa yang khas.

Baca Juga: Dokter Spesialis di Blora yang Bongkar Kelakuan Istri Selingkuh dengan Kepala Puskesmas Legowo, Bahkan Siap Jadi Saksi Pernikahan

“Setelah dimasak, nasinya terasa sangat pulen dan enak. Saya tentu sangat mendukung pengembangan program padi organik seperti ini. Luar biasa upaya yang dilakukan petani milenial Desa Sumber,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Blora sendiri terus mendorong pengembangan pertanian organik di berbagai wilayah.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan para petani.

Sementara itu, salah satu petani organik dari Desa Sumber, Rakam, mengaku dukungan pemerintah daerah memberikan motivasi besar bagi para petani, terutama generasi muda yang mulai menekuni sektor pertanian.

Menurutnya, perhatian dari pemerintah membuat para petani semakin bersemangat untuk terus mengembangkan budidaya padi organik di desa mereka.

“Kami jadi semakin termotivasi menanam padi organik. Apalagi Pak Bupati sangat mendukung dan siap membantu jika ada kendala saat proses tanam maupun panen,” kata Rakam.

Ia menambahkan, jika dilihat secara sekilas biaya bertani secara konvensional memang terlihat lebih murah dibandingkan dengan sistem organik.

Hal itu karena dalam praktik pertanian organik membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak, mulai dari proses pengolahan lahan hingga perawatan tanaman.

“Pada awalnya biaya bertani konvensional memang terlihat lebih rendah. Sedangkan pada pertanian organik, biaya sering terasa lebih besar karena membutuhkan tenaga kerja lebih banyak. Namun dalam jangka panjang, hasilnya justru lebih menguntungkan,” pungkasnya. (tos)

Editor : Ali Mustofa
#kesehatan #bupati #beras organik #petani #blora #pertanian #arief rohman #kualitas tanah