Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

200 Tahun Rumah China Muslim Jaga Akulturasi Budaya dan Agama. Ada Syahadat Bercampur Hanzi

Arif Fakhrian Khalim • Jumat, 6 Maret 2026 | 17:25 WIB

PERSEMBAHAN: Haji Tieksun menunjukkan tempat sembahyang yang ada di dalam rumah China Muslim.
PERSEMBAHAN: Haji Tieksun menunjukkan tempat sembahyang yang ada di dalam rumah China Muslim.

BLORA - Sebuah rumah kuno yang berada di Jalan Arumdalu, Kelurahan Mlangsen, Kecamatan Blora dibalut dengan ornamen Tiong Hoa dan Islam berdiri kokoh di tengah pusat kota.

Dari luar, bangunan itu tampak menyerupai klenteng, lengkap dengan lampion dan gapura khas Tionghoa.

Namun, ada hal yang membuat siapa pun tertegun saat hendak melangkah masuk.

Baca Juga: Dokter Spesialis di Blora yang Bongkar Kelakuan Istri Selingkuh dengan Kepala Puskesmas Legowo, Bahkan Siap Jadi Saksi Pernikahan

Di atas pintu utama, terpampang kalimat syahadat dalam tulisan Arab: “Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah.”

Setelah masuk ke dalam, nuansa Tionghoa semakin terasa dari detail arsitektur, warna, hingga ukiran kayu yang menghiasi bagian interior.

Tak hanya itu, peninggalan lemari, kasur dan meja kuno menjadi ciri khas rumah ini.

Pemilik rumah tersebut yakni Tjen Tik Soen dalam panggilan Tiong Hoa, sedangkan dalam Islam mempunyai nama lain Nur Mahsun.

Ia menyampaikan, usia bangunan tersebut telah berdiri sjeka 200 tahun lalu.

“Sejak dahulu rumah itu dimiliki oleh warga keturunan Tionghoa yang telah memeluk Islam. Dulu pemiliknya juga Cina Muslim. Sekarang saya juga Cina Muslim,” ujar Tieksun.

Ia mengungkapkan bahwa rumah tersebut dibangun oleh Lotia (Lurah Cina zaman Belanda) pada tahun 1800 an.

Baca Juga: Dokter Spesialis RSUD di Blora Dilaporkan Istri ke Polisi Atas Dugaan KDRT

Rumah tersebut juga sempat dipakai untuk Sekolah Tiong Hoa, Sekolah Teknik Pertama, Sekolah Menengah Ekonomi Pertama, dan Sekolah SMP Katolik Blora.

Tak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Blora pernah sempat meminta untuk dijadikan bangunan cagar budaya.

Namun ia memilih merawatnya secara pribadi.

Tujuh Bersaudara dan Mualaf

Sosok Tjen Tik Soen atau Nur Mahsun lahir di Blora pada 30 Desember 1945 di Kecamatan Jepon.

Memiliki Tujuh saudara dan hanya Haji Tieksun yang memilih untuk menjadi Mualaf dan memeluk Islam.

“Saya memiliki empat anak, dua putra dan dua putri. Semuanya tidak ada yang memeluk Islam,” ungkapnya.

Mushala dan Kendi Kuno

Ada yang unik sekaligus menyentuh dari rumah Cina Muslim itu.

Bukan sekedar menjaga ornamen dan keaslian rumah, terdapat Mushala kecil dan air wudhu yang ditempatkan di sebuah kendi kuno yang disebut engkong kendi.

“Karena saya adalah seorang muslim, maka sepatutnya membangun mushala kecil untuk tempat ibadah saya. Rumah ini sudah tidak ditempati, hanya sekali-sekali saja untuk pertemuan dan rapat. Kalau ada Mushala kan bisa buat shalat yang muslim,” ujarnya. (ari)

Editor : Ali Mustofa
#muslim #agama #Budaya #china #blora