Oleh: A. Mahbub Djunaidi
Kepala Bapperida Blora
Membaca Jawa Pos edisi Senin, 9 Februari 2026, ada getaran batin yang tidak biasa. Bukan semata karena isinya yang mengulas kembali ke khittah pers sebagai tameng peradaban anak bangsa, tetapi karena tulisan itu lahir dari tangan seorang jurnalis yang bagi saya lebih tepat disebut guru kehidupan: KH. Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus.
Saya memilih menyematkan “KH” bukan karena gelar formal, melainkan karena setiap kalimat yang keluar dari pikiran dan tulisannya selalu mengandung nasihat, keteladanan, dan kesejukan akal sehat.
Tulisan beliau menempatkan pers bukan sekadar industri informasi, melainkan sebagai suluh peradaban. Pers yang kembali ke khittahnya adalah pers yang bekerja keras, bekerja benar, dan bekerja tuntas.
Di tengah zaman yang sering tergoda kecepatan, klik, dan sensasi, pesan ini terasa seperti pengingat: bahwa kerja jurnalistik adalah ibadah intelektual, bukan sekadar rutinitas.
Saya merasa termasuk orang yang sangat beruntung. Dalam tulisan itu, KH. Baehaqi berkenan menyebut nama saya sebagai penulis buku Membaca Zaman Menulis Makna.
Sebuah penyebutan yang bagi saya bukan kehormatan pribadi semata, tetapi amanah moral. Apalagi buku itu saya terima sebagai kado Hari Pers Nasional.
Hadiah yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga menyadarkan: bahwa setiap karya akan menemukan jalannya sendiri bila dikerjakan dengan sungguh-sungguh.
Lebih dari itu, beliau bahkan berkenan memberikan kata-kata motivasi secara pribadi kepada saya—setelah saya, dengan sedikit rasa sungkan, meminta “7,5” (tujuh setengah: pitulungan setengah mekso).
Saya paham betul etika dan adab beliau yang luar biasa, terutama penghormatannya kepada Bupati Blora, Bapak Dr. Arief Rohman, SIP, MSi. Sampai-sampai saya hampir saja tidak berani meminta apa pun ketika sudah ada sambutan Bapak Bupati.
Dari situ saya belajar, bahwa adab selalu lebih tinggi dari sekadar kepentingan pribadi.
Apa yang saya tulis dalam buku, sesungguhnya bukan gagasan besar atau teori rumit. Ia hanya cerminan budaya kerja yang sederhana namun sering dilupakan: bekerja dengan ikhlas, dikerjakan dengan benar, dan diselesaikan dengan tuntas.
Tidak setengah-setengah. Tidak asal jadi. Karena kerja yang demikian, saya yakini, bukan hanya berbuah hasil duniawi, tetapi juga bernilai ukhrawi.
KH. Baehaqi menegaskan, pers yang sehat adalah pers yang tahan godaan. Saya kira prinsip itu berlaku untuk semua bidang pengabdian.
Ketika seseorang bekerja keras tanpa pamrih berlebihan, menuntaskan tugas tanpa menghitung untung-rugi sempit, di situlah nilai spiritual kerja muncul. Allah tidak pernah menutup mata dari proses yang jujur.
Kerja tuntas adalah bentuk kejujuran paling sunyi. Tidak selalu terlihat, tidak selalu dipuji, tetapi justru di sanalah kualitas manusia diuji.
Dalam dunia yang sering mengagungkan hasil instan, kerja tuntas adalah sikap melawan arus. Namun justru sikap itulah yang menjaga martabat profesi—baik jurnalis, birokrat, guru, maupun penulis kecil seperti saya.
Tulisan KH. Baehaqi mengingatkan saya bahwa pers, dan juga buku, adalah kerja peradaban. Ia menuntut kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk tetap lurus.
Bila kerja itu dilakukan dengan ikhlas dan dituntaskan dengan benar, maka janji Tuhan pasti berlaku: Allah akan membalas, dengan cara-Nya sendiri, pada waktu yang paling tepat.
Di situlah saya menemukan makna terdalam dari kerja keras, kerja tuntas, dan keyakinan bahwa balasan Tuhan tidak pernah salah alamat (*)
Editor : Ali Mustofa