BLORA – Serangan hama tikus mengancam produktivitas pertanian di Kabupaten Blora.
Sedikitnya 78 hektare lahan pertanian, mulai dari tanaman padi hingga jagung, dilaporkan berpotensi mengalami gagal panen.
Lahan-lahan terdampak tersebut tersebar di sejumlah kecamatan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Blora, Rosalia Dyah Erawati, mengungkapkan bahwa wabah hama tikus kali ini terjadi secara merata di beberapa wilayah.
Akibatnya, puluhan hektare tanaman milik petani mengalami kerusakan cukup parah sehingga terancam tidak dapat dipanen.
Ia merinci, serangan terluas terjadi di Kecamatan Banjarejo dengan luas lahan terdampak mencapai 46 hektare.
Disusul Kecamatan Todanan seluas 13 hektare dan Kecamatan Ngawen sekitar 8 hektare.
Sementara itu, Kecamatan Jiken dan Jepon masing-masing tercatat mengalami serangan di area seluas 3 hektare.
Baca Juga: Kuota LPG Bersubsidi di Blora Turun dari Tahun Lalu, Ini yang Dilakukan Pemkab
Selain itu, sejumlah kecamatan lain juga dilaporkan terdampak, antara lain Kecamatan Cepu, Kradenan, Kedungtuban, serta sebagian wilayah Kecamatan Randublatung.
Menurut Rosalia, daerah-daerah tersebut memang dikenal sebagai wilayah endemis hama tikus.
“Wilayah itu memang sudah lama menjadi daerah endemis tikus,” jelasnya.
Untuk menekan dampak serangan, pemerintah daerah secara rutin memberikan bantuan pengendalian hama setiap tahun.
Bantuan tersebut berupa pemasangan rumah burung hantu serta penyaluran obat rodentisida di titik-titik rawan.
“Tahun ini ada dukungan CSR dari instansi terkait yang langsung kami alokasikan berupa 80 unit rumah burung hantu di Kecamatan Kedungtuban, tepatnya di Desa Tanjung,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa upaya pengendalian hama tidak hanya bergantung pada pemerintah.
Peran aktif dan kemandirian masyarakat tani juga sangat diperlukan untuk menekan populasi tikus di lahan pertanian. (tos)
Editor : Ali Mustofa