BLORA – Setelah dilakukan pencarian selama tiga hari, jasad seorang lanjut usia asal Dusun Ngandong RT 01 RW 04, Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan, akhirnya berhasil ditemukan.
Korban ditemukan di kawasan Bendung Gerak Bojonegoro.
Korban diketahui bernama Gami (75). Ia dilaporkan tenggelam di Sungai Bengawan Solo saat hendak buang air besar di tepi sungai beberapa waktu lalu.
Saat kejadian, korban langsung terseret arus sehingga tidak segera ditemukan.
Mendapat laporan tersebut, tim gabungan yang terdiri dari BPBD Blora, BPBD Bojonegoro, Basarnas USS Rembang dan Bojonegoro, Tagana Blora, SAR MTA, PMI, MDMC, Kamboja Rescue.
Serta unsur TNI dan perangkat desa segera diterjunkan untuk melakukan pencarian di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo.
Upaya penyisiran dilakukan dari titik awal kejadian di wilayah Desa Medalem hingga Desa Nglungger, Kecamatan Cepu.
Sementara tim lainnya menyisir aliran sungai mulai dari wilayah Kecamatan Cepu hingga Bendung Gerak Bojonegoro.
Kepala Pelaksana BPBD Blora, Mulyowati, menyampaikan bahwa korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada hari ketiga pencarian.
Jarak lokasi penemuan cukup jauh dari titik awal korban dilaporkan tenggelam.
Baca Juga: Kuota LPG Bersubsidi di Blora Turun dari Tahun Lalu, Ini yang Dilakukan Pemkab
“Korban ditemukan di Bendung Gerak Bojonegoro pada hari ketiga pencarian,” ujarnya.
Setelah dievakuasi, jenazah langsung dibawa ke RSUD Dr. Sosodoro Bojonegoro untuk dilakukan pendampingan dan memastikan identitas korban.
“Setelah dilakukan pemeriksaan dan pencocokan identitas pada Rabu sekitar pukul 21.00 WIB, dipastikan bahwa jenazah tersebut adalah Mbah Gami yang sebelumnya dilaporkan tenggelam di Bengawan Solo,” jelasnya.
Berdasarkan hasil identifikasi dan pemeriksaan medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan maupun penganiayaan pada tubuh korban.
Dengan demikian, peristiwa tersebut dipastikan murni kecelakaan air.
Baca Juga: Tak Dapat Murid, Sekolah Dasar di Blora ini Direncanakan Diregrouping, Guru dan Orang Tua Legowo
Mulyowati menambahkan, di wilayah sekitar lokasi kejadian masih minim fasilitas sanitasi seperti kamar mandi dan WC, sehingga warga kerap melakukan aktivitas mandi maupun buang air di sungai.
“Kami melihat di daerah tersebut memang jarang tersedia WC, sehingga masyarakat masih memanfaatkan sungai,” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, pihaknya berharap kebiasaan buang hajat di sungai dapat dihentikan.
BPBD Blora telah berkoordinasi dengan masyarakat, pemerintah desa, hingga pihak kecamatan untuk mendorong pembangunan fasilitas WC umum.
“Kami sudah berkoordinasi agar segera dibangun WC umum sehingga aktivitas buang hajat tidak lagi dilakukan di sungai,” pungkasnya. (tos)
Editor : Ali Mustofa