BLORA – Pameran lukisan karya Tony Ariadi tersaji di Joglo Herman, tepatnya di Jalan Halmahera Nomor 33 A Jetis.
Berlangsung 19-22 Desember, bertemakan pesona Blora. Pengunjung bisa melihat mulai pukul 09.00-21.00.
Dibuka pada Jumat sore 19 Desember, puluhan masyarakat memadati joglo. Mereka melihat beragam lukisan yang terpajang.
Dari kalangan pelajar hingga pegiat seni dan budaya serta masyarakat sekitar.
Bagi Angelina Widya Pramesti, seorang pengunjung, lukisan-lukisan yang dipamerkan memberi kesan miniatur Blora. Lantaran dinilai nyaris persis aslinya.
Mulai dari Tugu Pancasila, Pasar, Kantor Pos, Masjid, Eks Stasiun, Waduk Tempuran dan lainnya.
"Saya dari Tempuran, ada lukisan Tempuran. Indah," ujarnya.
Namun ada satu lukisan yang membuatnya terpesona. Yakni lukisan wajah Pramoedya Ananta Toer.
Bukan hanya sekedar kemiripan dengan aslinya, melainkan bahan lukisan yang membuat dia terkagum. Lantaran lukisan dibuat dengan lethek kopi.
"Lukisan seindah ini dari lethek kopi. Unik. Baru nemu ini saya," katanya.
Tony Ariadi menyebut lukisan yang dipamerkan itu karya dia selama dua tahun terakhir. Dari 2023 hingga 2025. Total ada 30 lukisan.
"Temanya tentang pesona Blora. Jadi ikon-ikon Blora," ujarnya.
Bila biasanya ia berkarya dengan cat minyak, maka yang ditampilkan kali ini berbeda. Toni menantang diri. Ia memilih berkarya dengan cat air dan lethek kopi.
"Media cat air ini yang sulit ditaklukkan buat para pegiat seni. Saya menantang diri, ini pertama saya pakai cat air," tuturnya.
Tak sekedar dipamerkan, pengunjung yang tertarik bisa membeli karya dia. Toni pun mencontohkan salah satu lukisan yang telah laku.
Yakni lukisan Samin Surosentiko. Lukisan itu dibuat dengan lethek kopi. Karena sudah laku, ia pun memberi tanda pita merah.
Lelaki yang pernah menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu sudah berkarya selama 40 tahun.
Telah mengikuti berbagai pameran lukisan di berbagai kota di Indonesia.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora Yeti Romdonah yang membuka acara pameran itu menyebut kegiatan tersebut sangat penting. Lantaran memberi ruang alternatif mengenal Blora.
"Ini menjadi salah satu tempat belajar literasi bagi masyarakat dan anak-anak tentang seni rupa dan Blora," tuturnya.
Ia menyadari di tengah keterbatasan peran pemerintah, inisiatif seniman seperti Tony membuat budaya Blora makin dikenal luas.
"Beliau sudah sepuh, ibaratnya purna, tetapi masih peduli dengan beberapa hal kekayaan di Blora. Sehingga keberadaan joglo dan kegiatan ini menjadi kebanggaan bagi kami," tambahnya. (tos)
Editor : Ali Mustofa