BLORA – Proses pemakaman sesepuh Samin Klopo duwur Blora Mbah Lasiyo secara islami menimbulkan tanda tanya dalam benak masyarakat.
Pihak keluarga dan murid pun buka suara dan beri penjelasan.
Seorang murid Mbah Lasiyo, Eko Purwanto, 58, menjelaskan, tak hanya proses pemakaman secara islami, tetapi hingga hari ke tujuh ada hataman Alquran.
Malam peringatan ke tujuh meninggalnya Mbah Lasiyo itu berlangsung kemarin malam.
Acara tujuh hraian itu, bertempat di Pendapa Samin Klopoduwur yang berlokasi di depan rumah Mbah Lasiyo.
Selain hataman juga ada pembacaan Yasin dan tahlil.
Eko Purwanto menjelaskan, memang secara harfiah atau syariat tak banyak yang melihat Mbah Lasiyo melakukan ritus Islam. Namun dari hati, tak ada yang bisa menilai.
Ia menceritakan saat dirawat di Rumah Sakit Karyadi Semarang, Eko yang menunggui Mbah Lasiyo melihat dan mendengar apa yang diucapkan sesepuh Samin tersebut.
”Saat beliau mau meninggal terus menyebut kalimat toyibah, syahadat, Alfatihah, salawat,” katanya.
Bahkan saat-saat terakhir ajal, Mbah Lasiyo berzikir. Mengucap Allah. ”Huallah, huallah,” tuturnya.
Setelah meninggal, dibawa ke masjid di Pondok Pesantren Az Zuhri, Kota Semarang, pimpinan KH Muhammad Lukman Hakim.
”Dimandikan, dikafani, disalawati, dan disalatkan disitu,” tambahnya.
Di Blora juga disertai hataman Alquran. Sampai dengan malam ke tujuh.
”Gus Lukman juga nyuruh santrinya membaca Yasin, tahlil, dan hataman Alquran sampai hari ke tujuh,” imbuhnya.
Bahkan, ada wasiat dari Mbah Lasiyo kepada Gus Lukman untuk membangunkan masjid dan badal haji.
”Masjidnya akan dibangun di sini (sekitar rumah Mbah Lasiyo, Red),” bebernya. (tos)
Editor : Ali Mustofa