BLORA - Pertamina EP Cepu Field (PEP Cepu Field), bagian dari Subholding Upstream Pertamina dan Pemerintah Kabupaten Blora terus mendorong pengembangan pertanian organik sebagai masa depan sektor pangan daerah.
Bupati Blora Arief Rohman menghadiri pertemuan petani organik di Desa Sumber, Kecamatan Kradenan, bersama sejumlah pemangku kepentingan, Selasa (15/11) lalu.
Di kesempatan itu, Bupati Arief menyampaikan komitmennya menjadikan Kabupaten Blora sebagai Kabupaten Organik.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, NU, dan para pelaku pertanian untuk mempercepat transformasi menuju sistem pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Kabupaten Blora ini akan menjadi kabupaten organik. Metode SRI ini harus dicontohkan antara pemerintah dengan NU dan pihak lainnya. Kita optimis, insyaallah para petani sebagian nanti akan beralih ke organik. Ini tugas kita semua untuk mengawal program ini. Saya minta Dinas DP4 benar-benar mendampingi metode yang diperkenalkan ini,” ujar Bupati Arief.
Bupati juga mengaku terkesan dengan metode SRI (System of Rice Intensification) yang dinilai membutuhkan ketekunan dan komitmen tinggi.
Ia berharap teknik ini bisa disebarluaskan agar lebih banyak wilayah di Blora dapat mengadopsinya.
“Kesuksesan ini uga mendapat dukungan dari berbagai program CSR termasuk dari Pertamina EP Cepu Field. Panen raya juga menjadi puncak keberhasilan Program PUSAKA BLORA (Pusat Sentra Pertanian Organik Blora), yang membuktikan bahwa sektor energi dan pangan dapat tumbuh harmonis dan saling menguatkan,” ungkapnya.
Bupati Blora Arief Rohman menyampaikan, PUSAKA BLORA merupakan langkah nyata Pertamina dalam mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dengan operasi hulu migas.
“Inisiatif ini fokus pada peralihan sistem pertanian dari konvensional menjadi organik. Tujuannya jelas, menciptakan sistem pertanian yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi tinggi bagi petani,” katanya.
Pihaknya mengaku, transformasi ini telah membawa dampak signifikan. Diantaranya, waktu panen meningkat menjadi tiga kali dalam setahun, dengan produktivitas mencapai sekitar 8 ton per hektare.
Selain itu, petani binaan mampu menghemat biaya produksi hingga Rp4 juta per musim tanam berkat kemandirian dalam memproduksi pupuk organik olahan sendiri.
“Program ini juga berhasil merehabilitasi lebih dari 15 hektare lahan rusak dan memproduksi 5–6 ton pupuk organik setiap minggu.
Hingga saat ini, PUSAKA BLORA telah merangkul dan membentuk jejaring 141 petani binaan di Blora, menunjukkan dampak sosial yang luas dan berkelanjutan,” tuturnya. (ari)
Editor : Mahendra Aditya