JIKEN, Radar Kudus– Warga Desa Jiken Kecamatan Jiken ancam tutup PT Pentawira, yakni pabrik pengolahan kapur yang beroperasi di Desa Jiken. Ancaman itu merupakan bentuk kegeraman warga yang berulang kali hendak bertemu pemilik pabrik tetapi selalu gagal.
Tampak sekitar 50,an warga Desa Jiken sudah berada di halaman pabrik saat pukul 09.00. Mereka membawa tiga spanduk besar yang memuat beberapa tuntutan.
Di antaranya bertuliskan "warga Desa Jiken peduli lingkungan. Tolak operasional tanpa izin dan kajian dampak lingkungan", "lingkungan bersih warga sehat", "kami hanya ingin izin jelas lingkungan aman dan warga sejahtera".
Tampak ada penekanan tuntutan soal perizinan dari PT Pentawira yang dianggap warga belum terurus sepenuhnya. Kemudian ada juga tuntutan soal tenaga kerja.
Seperti yang tertulis dalam poster "buka kesempatan kerja untuk warga lokal secara transparan. Kerja untuk rakyat bukan hanya segelintir pihak".
Ketua Karang Taruna Desa Jiken, Galuh Wicaksono Putro menjelaskan jika keberadaan pabrik menyebabkan beberapa kerugian bagi warga sekitar. Mulai dari kebisingan akibat aktivitas pabrik, pencemaran lingkungan akibat debu, hingga banjir.
"Dampaknya itu debu, kebisingan, sempat banjir juga pada 2024 lalu dan sampai sekarang belum ada tindaklanjut," paparnya.
Saat banjir tahun lalu pun menurutnya pihak pabrik tak memberikan ganti rugi atas tanaman warga yang terendam. Padahal sudah ada pengajuan, tetapi tak digubris.
"Kami juga menuntut rekrutmen tenaga kerja gak transparan. Dulu awal berdiri dijanjikan 800 tenaga kerja yang direkrut. Nyatanya gak ada segitu. Dan prosesnya tertutup. Saya gak tahu," imbuhnya.
Terakhir warga meminta adanya kompensasi akibat debu yang dihasilkan pabrik dan mencemari lingkungan.Atas beberapa hal itulah warga berkehendak bertemu Mbah Liem, selaku owner. Agar segera ada dialog dan titik terang.
Namun nyatanya keinginan warga bertemu bos PT Pentawira menemui jalan buntu. Sang pemilik tak di lokasi.
Warga ditemui oleh Manajer PT Pentawira Alwin pukul 09.30. Saat berdialog, warga meminta kepastian kepada Alwin kapan bertemu owner. Namun si manajer tak bisa memberikan kepastian.
Sempat dijanjikan waktu 10 menit untuk menunggu. Namun nyaris satu jam Alwin tak keluar. Warga pun makin geram. Mereka berorasi. Hingga akhirnya Alwin kembali menemui warga.
Manajer PT Pentawira Alwin bertemu masa untuk kedua kali. Namun tetap saja tak bisa memberikan kepastian.
"Kami tampung semua aspirasi warga. Namun masih kami diskusikan," katanya.
Warga tak puas dengan jawaban manajer dan tetap menuntut bertemu pemilik. Warga pun meminta waktu maksimal 3 hari kepada pabrik agar bisa mempertemukan warga dan pemilik.
Bila dalam jangka waktu tertentu tuntutan warga tak dipenuhi, mereka akan melakukan aksi lebih besar hingga menutup pabrik.
Setelah menyampaikan hal tersebut massa aksi kemudian membubarkan diri. Sekitar pukul 11.00. Lantas mereka pulang sembari memasang baliho yang dibawa ke palang pintu masuk. (tos)
Editor : Mahendra Aditya