BLORA - Korban bullying dan kekerasan yang terjadi di SMPN 1 Blora mengalami trauma sehingga tidak masuk sekolah.
Atas kejadian tersebut pihak kepolisian dan sekolah melakukan pembinaan pada 33 anak yang terlibat dalam video aksi perundungan tersebut.
Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Blora Ainur Rofiq meminta maaf sebagai pimpinan atas kejadian bullying pada Jum’at (7/11) di kamar mandi SMPN 1 Blora saat istirahat.
Pada Sabtu (8/11) pihaknya sudah mengambil langkah-langkah mengumpulkan semua siswa kemudian mempertemukan kedua orang tua korban dan pelaku.
“Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Polsek Blora dan Polres Blora untuk penanganan lebih lanjut dari peristiwa itu.
Menurut keterangan yang kami himpun asalnya ada kesalahpahaman yang sudah selesai, namun ditambahi oleh oknum teman yang memprovokasi,” ungkapnya.
Ia menyampaikan, kondisi korban tidak ada luka atau lecet, namun ada benjolan di bagian telinga.
Pihaknya juga mencoba membesarkan hati korban untuk sekolah dan menjamin
keamanan.
“Kami tidak menemukan adanya trauma dan siap mendampingi,” katanya.
Kapolsek Blora Kota AKP Rustam menjelaskan, pihak kepolisian telah melakukan oembinaan terhadap anak-anak yang terlibat dalam video bullying di SMPN 1 Blora.
Yang terlibat dalam video tersebut ada sebanyak 33 siswa dengan berbagai peran masing-masing.
“Untuk korban belum bisa dihadirkan karena yang bersangkutan tidak masuk sekolah. Kedepannya akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut oleh tim Reskrim Polres Blora untuk dimintai keterangan lebih lanjut,” ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Blora Sunaryo mengaku telah melihat video bullying yang viral di media sosial.
Pihaknya menyayangkan adanya aksi perundungan pada anak-anak.
“Saat ini kami sudah melakukan penanganan serius agar tidak terulang kembali, ada penanganan jangka pendek dan jangka panjang. Kami juga sudah minta sekolah melakukan olah kronologi atas kasus yang terjadi,” ujarnya.
Pihaknya juga sudah menerima laporan siswa yang terlibat aksi perundungan ada puluhan anak.
Mulai dari korban, pelaku aktif, pelaku yang merekam video dan anak-anak yang memprovokasi sudah dikumpulkan bersama orang tuanya.
Pihaknya juga sudah bekerja sama dengan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan danmPerlindungan Anak (PPPA) untuk meminta pendampingan psikolog dan komunikasi dengan unit PPA Polres Blora.
Sunaryo juga ingin mengefektifkan dan mendorong tim pencegahan dan
penanganan kekerasan pada satuan pendidikan untuk lebih aktif melakukan langkah-langkah pencegahan.
“Untuk trauma healing kepada korban tetap kami lakukan dengan sumber daya manusia yang ada yang kami punya dengan dibantu oleh dinas sosial,” ucapnya. (ari)
Editor : Ali Mustofa