Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Cukup Rp5 Ribu Sehari, Siswa Sekolah Unggulan di Blora Tetap Bisa Makan Bergizi dan Bervariasi

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 9 Oktober 2025 | 22:45 WIB
SEMANGAT: Farid Budiman pengawas SMP dan SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Maa
SEMANGAT: Farid Budiman pengawas SMP dan SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Maa

BLORA – Fasilitas makan untuk siswa sudah diterapkan sekolah-sekolah berbasis pondok pesantren jauh sebelum adanya program makan bergizi gratis (MBG).

Di antaranya di SMP dan SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Maa'uun Blora.

Di sekolah tersebut siswa mendapatkan makan tiga kali dalam sehari. Hebatnya anggaran untuk tiga kali makan itu hanya hanya lima ribu.

Meski dengan budget sedikit, nyatanya tak pernah ada masalah. Bahkan porsinya jauh lebih banyak dari menu MBG. Hanya dalam menu itu tak ada buah dan susu.

"Ya nasi, sayur dan lauk. Itu menunya bervariasi tiap hari ganti," ujar Farid Budiman SMP dan SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Maa'uun Blora.

Menu-menu itu sudah terjadwal selama sebulan. Dengan variasi yang berbeda tiap hari. Termasuk dibedakan saat sarapan, makan siang dan makan malam.

Misalnya untuk sarapan orak-arik buncis dan rolade tahu. Kemudian siang bobor bayam dengan tempe goreng. Makan malamnya ikan lele lalapan sambal.

Kemudian hari berikutnya sarapan pecel dan mendoan. Kemudian siang sayur sop dan bergedel. Makan malam semur tahu bakso.

Menu-menu tersebut juga sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi agar kebutuhan anak terpenuhi. Jadi tidak asal.

"Awalnya dulu kita undang ahli gizi. Memang sempat kita katering, namun begitu tahu katering biaya tinggi. Akhirnya masak sendiri. Lebih irit," ujarnya.

Untuk menyediakan menu itu pihak yayasan menyewa satu juru masak. Tugasnya membuat sayur dan lauk. Sementara untuk nasi dimasak siswa sendiri.

"Ini kan kami konsepnya MBS, Muhammadiyah Boarding School. Sekolah dan pondok jadi satu di sini. Ya otomatis kami sediakan kebutuhan anak. Makan minum, tempat tidur selama 24 jam. Namun kami latih mereka mandiri. Misal untuk masak nasi," tuturnya.

Di sekolah tersebut konsep MBS dan pemberian makan bergizi itu sudah berlangsung sepuluh tahun terakhir. Dan sejauh itu tak pernah ada kendala.

"Jadi tiga kali sehari. Sarapan sebelum berangkat sekolah, makan siang jam 12 siang dan makan malam setelah magrib," imbuhnya.

Saat makan ada anak yang mendapatkan jadwal piket. Tugasnya membagi jatah makanan ke dalam wadah. Sehingga mereka tak saling berebut.

"Kami akui memang menu sederhana. Karena niatnya membantu, bukan profit. Sebab mayoritas di sini kalangan menengah ke bawah," jelasnya.

Karena sudah mendapatkan jatah makan, uang saku anak pun juga dibatasi. Yakni 300 ribu per bulan.

Uang itu dititipkan ke pengurus. Bila anak perlu, mereka meminta ke pengurus.

"Tentu ini sudah kami sampaikan ke orang tua," katanya.

Pihaknya menambahkan jika memang budget 5000 untuk tiga kali makan sangat minim. Namun diupayakan cukup.

"Kami juga tertolong karena ada donatur," paparnya.

Sementara program tersebut terus berjalan, kini sekolah tersebut juga dapat jatah MBG. Meski demikian hal itu tak membuat program awal dirubah.

"Tetap jalan, karena menu MBG kan segitu, kadang anak kurang. Jadi makan siang tetap ada. Hanya berkurang saja porsinya," tuturnya.

Selama sepuluh tahun berjalan, menurutnya tak ada kendala terkait limbah makanan.

Sebab makanan yang disediakan selalu habis. (tos)

Editor : Ali Mustofa
#Mbg #pondok pesantren #blora #sekolah #sarapan #makan bergizi #Ahli gizi