BLORA - Menu Makan Bergizi Gratis di wilayah Kecamatan Todanan dikeluhkan penerima
manfaat.
Pasalnya, terdapat lubang di tempat makan yang tak terisi dan porsi yang sedikit.
Dalam dokumentasi yang beredar, paket makan MBG yang dibagikan kepada anak-anak hanya
berisi seporsi nasi putih, satu telur rebus, sedikit tempe orek, dan sebuah pisang.
Sementara beberapa sekat wadah makan berbahan aluminium tampak kosong tanpa isi.
Kondisi tersebut menuai kritik dari masyarakat. Banyak yang menilai menu itu tidak cukup
memenuhi kebutuhan gizi harian anak-anak yang seharusnya menjadi sasaran utama program.
"Kalau hanya nasi, satu telur, tempe sedikit, dan pisang, apa sudah layak disebut makan bergizi?
Anak-anak butuh protein, vitamin, dan sayuran, ini menu Kamis kemarin," ungkap salah seorang
orang tua murid yang tidak ingin disebutkan namanya di Todanan, Jumat (29/8)
Selain dianggap tidak bergizi, porsi makanan yang terbatas juga dikhawatirkan tidak mampu
menunjang pertumbuhan dan kesehatan anak-anak.
Program yang sejatinya dirancang untuk
menanggulangi masalah gizi justru terkesan sekadar formalitas. Ia berharap agar pemerintah daerah melakukan evaluasi serius terhadap pelaksanaan MBG di Todanan. Baik dari sisi menu, kualitas, maupun pengawasan.
"Kalau dibiarkan, tujuan program ini tidak akan tercapai. Anak-anak malah bisa kekurangan
asupan yang seharusnya mereka dapatkan," tambahnya.
Kusyanto selaku penanggung jawab dapur MBG di Desa Kedungwungu, Kecamatan Todanan
mengatakan, sempat beredar luas di media sosial tersebut bukanlah representasi penuh dari
menu harian MBG.
Ia mengakui bahwa pada hari tertentu memang ada keterbatasan bahan sehingga porsi terlihat minim.
“Memang benar ada dokumentasi yang menampilkan nasi, satu butir telur, sedikit tempe, dan
pisang. Namun perlu kami luruskan, tidak setiap hari menunya seperti itu. Ada kalanya kami
menyajikan lauk lain seperti ayam, ikan, maupun sayuran,” jelasnya.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Blora adalah Artika Diannita mengucapkan
permintaan maaf atas pemberian MBG yang minimalis, kedepannya ia berupaya untuk melakukan evaluasi terkait perbaikan menu.
Tak dipingkiri, ia menerima laporan terkait
minimnya menu MBG yang diterima di Kecamatan Todanan.
“Kami menerima laporan itu dan sudah memberikan himbauan kepada mitra dari dapur untuk
melakukan perbaikan pada menu hari selanjutnya. Untuk menu itu layak, cuman porsinya terlalu
minim dan satu sekat kosong,” jelasnya.
Artika mengaku selama ini telah melakukan evaluasi berulang dan mengumpulkan seluruh mitra
untuk diarahkan agar memberikan menu yang terbaik.
Sampai saat ini pihaknya belum menerima
laporan dari masyarakat terkait MBG selain di Todanan.
“Operasional di dapur Todanan itu baru dua minggu, jadi kami terus melakukan himbauan agar akuntan, ahli gizi dan pekerja bisa meniru standard dapur lain,” tuturnya.
Editor : Ali Mustofa