Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Miris! Situs Cagar Budaya Stasiun Penelitian Manusia Purba Ngandong Tak Terurus

Eko Santoso • Sabtu, 26 April 2025 | 21:40 WIB

 

TERLANTAR: Cagar Budaya Stasiun Penelitian Manusia Purba Teer Harr dan GHR Von Koenigswald diDusun Ngandong, Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan.
TERLANTAR: Cagar Budaya Stasiun Penelitian Manusia Purba Teer Harr dan GHR Von Koenigswald diDusun Ngandong, Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan.

BLORA - Situs cagar budaya stasiun penelitian manusia purba di Dusun Ngandong,Desa Nglebak, Kecamatan Kradenan tak terurus. Padahal bangunan tersebut menyimpan nilai historis yang luar biasa. Diakui dunia.

Akses menuju tempat tersebut cukup jauh dari kota, perlu waktu nyaris dua jam untuk sampai lokasi. Karena berlokasi di tengah hutan, jalan menuju cagar budaya itu terjal, berbatu, dan licin.

Naik turun perbukitan. Makin menantang karena di pinggiran sungai Bengawan Solo.

Baca Juga: Temuan Manusia Purba di Blora konon Lebih Maju dari Manusia Purba di Sangiran, Begini Penjelasannya

Memasuki area ada plang dengan tulisan yang lamat-lamat. Tertulis Cagar Budaya, Situs Ngandong Rumah penelitian Teer Harr dan GHR Von Koenigswald.

Di lokasi, tampak ada dua bangunan tua. Bagian depan dengan bentuk lebih besar dibandingkan bagian belakang.

Bangunan itu dikelilingi semak-semak. Ilalang, putri malu, hingga berbagai jenis rerumputan.

Photo
Photo

Meski mulai luntur, tampak bangunan  dominan bercat putih dan hijau. Perpaduan tembok dan kayu. Genting - genting bagian pinggir sudah lepas.

Cat terkelupas. Meski mulai rapuh, bangunan masih berdiritegak.

Di bagian dalam, lantai bangunan terbuat dari tegel lama. Warna kusam, makin tak karuan dengan banyaknya kotoran kelelawar dan burung.

Parahnya di tiap sudut bangunan di bagian dalam menjadi sarang kelelawar. Saat wartawan ini memasuki bangunan, seketika binatang itu berhamburan.

Sebenarnya masih ada kabel listrik dan spedometer di lokasi tersebut. Namun instalasi di dalamnya sudah terputus-putus.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Blora Widyarini Setyaningrum menyebut bangunan itu dahulu menjadi rumah penelitian bagi arkeolog dunia. Yakni Teer Harr dan GHR Von Koenigswald.

Bermula pada 1931, ketika Ter Haar mengadakan pemetaan di daerah ini, pada suatu lekukan BengawanSolo menemukan endapan teras yang mengandung fosil-fosil vertebrata.

Pada tahun itu juga ia mengadakan penggalian pada salah satu teras yang berada 20 cm di atas aliran sungai sekarang dan menemukan 2 buah atap tengkorak manusia purba.

"Penggalian yang berlangsung hingga Desember 1933 bersama-sama Oppenoorth dan Von Koenigswald menemukan beberapa atap tengkorak lainnya hingga akhirnya mencapai 11 tengkorak manusia, sebuah pecahan parietal, dan 5 buah tulang infra-tengkorak (termasuk 2 tibia).

Baca Juga: Diteliti Balai Konservasi Borobudur, Fosil Kaki Manusia Purba Belum Dikembalikan ke Museum Patiayam

Temuan ini kemudian dideskripsikan oleh Oppenoorth sebagai Homo Soloensis," katanya.

Tengkorak Homo Soloensis Ngandong berukuran besar dengan volume otak rata-rata 1.100 cc, ciri yanglebih berevolusi dibandingkan dengan Homo Erectus dari Sangiran maupun Trinil.

Ciri yang lebih maju juga ditunjukkan oleh bentuk atap tengkorak yang lebih bundar dan lebih tinggi. 

Dengan demikian otak Manusia Ngandong lebih berkembang dibandingkan kelompok yang pernah ditemukan di Sangiran.

"Apabila dikaitkan dengan 3 tingkat evolusi yang pernah terjadi di Indonesia, posisi Homo Erectus Ngandong berada pada bagian paling akhir, sehingga tengkorak-tengkorak tersebut merupakan tengkorak Homo Erectus yang paling berevolusi dan paling maju," imbuhnya.

Selain fosil tengkorak manusia di Ngandong juga ditemukan sejumlah besar fosil mamalia.

Kumpulan fauna mamalianya sangat banyak dan beberapa di antaranya merupakan bukti dari fauna yang pernahhidup di lingkungan vegetasi yang sangat terbuka. (tos)

Editor : Mahendra Aditya
#manusia purba #penelitian #Ngandong #Kradenan Blora #situs cagar budaya #blora #Stasiun Penelitian Manusia Purba Ngandong