Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Temuan Manusia Purba di Blora konon Lebih Maju dari Manusia Purba di Sangiran, Begini Penjelasannya

Vachri Rinaldy • Jumat, 25 April 2025 | 04:47 WIB
DISELAMATKAN: Dua fosil tulang gajah purba stegodon  dibersihkan oleh petugas dari Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Kabupaten Blora di Rumah Artefak Blora belum lama ini. (DINPORABUDPAR FOR RADAR KUDUS)
DISELAMATKAN: Dua fosil tulang gajah purba stegodon  dibersihkan oleh petugas dari Bidang Kebudayaan Dinporabudpar Kabupaten Blora di Rumah Artefak Blora belum lama ini. (DINPORABUDPAR FOR RADAR KUDUS)

RADAR KUDUS - Jejak-jejak manusia purba pernah ditemukan di Kabupaten Blora.

Bahkan, penilitian sudah dilakukan sejak lama.

Hasil penelitian menyimpulkan jika manusia purba yang ada di Blora lebih maju jika dibandingkan dengan manusia purba yang ada di Sangiran. 

Jejak-jejak keberadaan manusia purba Blora itu ditemukan di area hutan jati. Kini tempat tersebut dikenal dengan nama Situs Ngandong. 

Ngandong, merupakan dusun yang terletak di Kecamatan Kradenan. Situs ini berada di tengah hutan jati. 

Lokasi ini menjadi dikenal setelah ditemukan fosil manusia purba. 

Dilansir dari website resmi Penerintah Kabupaten Blora, selain fosil tengkorak manusia di Ngandong juga ditemukan banyak ditemukan fosil mamalia yang diperkirakan pernah hidup dilingkungan yang vegetasi yang sangat terbuka. 

Temuan itu menunjukkan diperkirakan iklim masa itu menggambarkan kondisi iklim yang mungkin lebih dingin atau kering jika dibandingkan dengan sekarang.

Penelitian sudah pernah dilakukan pada tahun 1931 ketika diadakan pemetaan di daerah ini. 

Pada suatu lekukan Bengawan Solo, ternyata ditemukan endapan teras yang mengandung fosil-fosil vertebrata. 

Pada tahun itu juga diadakan penggalian pada salah satu teras yang berada 20 cm di atas aliran sungai. 

Alhasil ditemukanlah dua buah atap tengkorak manusia purba. 

Pada Desember tahun 1993 ditemukan beberapa atap tengkorak lainnya hingga total ada 11 tengkorak manusia, sebuah pecahan parietal, dan 5 buah tulang infra-tengkorak termasuk 2 tibia. 

Temuan ini kemudian dideskripsikan sebagai Homo Soloensis. 

Tengkorak Homo Soloensis Ngandong berukuran besar dengan volume otak rata-rata 1.100 cc, ciri yang lebih berevolusi dibandingkan dengan Homo Erectus dari Sangiran maupun Trinil. 

Masih dilansir dari website yang sama, ciri yang lebih maju juga ditunjukkan bentuk atap tengkorak yang lebih bundar dan lebih tinggi. 

Sehingga otak Manusia Purba Ngandong bisa diartiman lebih berkembang dibandingkan kelompok yang pernah ditemukan di Sangiran. 

Apabila dikaitkan dengan 3 tingkat evolusi yang pernah terjadi di Indonesia, posisi Homo Erectus Ngandong berada pada bagian paling akhir.

Sehingga tengkorak-tengkorak tersebut merupakan tengkorak Homo Erectus yang paling berevolusi dan paling maju. (*) 

Editor : Ali Mustofa
#sejarah #manusia purba #Manusia Purba Blora #Manusia Purba Sangiran