Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Lebih Dekat Sosok Raden Patah, Pendiri Kesultanan Demak sekaligus Anak dari Prabu Brawijaya yang Melarang Warga Blora Mendaki Gunung Lawu

Noor Syafaatul Udhma • Selasa, 18 Februari 2025 | 19:07 WIB
Ilustrasi Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak Bintoro.
Ilustrasi Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak Bintoro.

RADAR KUDUS –  Raden Patah merupakan pendiri kerajaan Islam pertama di Jawa yakni Kesultanan Demak Bintoro atau Kerajaan Demak. Dia memiliki gelar Sultan Alam Akbar Al-Fatah.

Dia merupakan keturunan dari Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V yang konon katanya melarang warga Cepu Blora dan Bojonegoro mendaki Gunung Lawu.

Profil Raden Patah

Dalam buku Jejak Islam di Nusantara yang ditulis oleh Adi Teruna Effendi dkk, Raden Patah diketahui merupakan seorang putra dari Raja Kertabumi atau Prabu Brawijaya V dari kerajana Majapahit dengan seorang putri China bernama Siu Ban Ci.

Siu Ban Ci merupakan putri dari saudagar sekaligus ulama bernama Syaikh Bantong atau Tan Go Hwat.

Setelah menikah dengan Prabu Brawijaya V, Siu Ban Ci yang saat itu sebagai selir kesayangan sang raja langsung hamil.

Tak suka dengan kehamilan dari Siu Ban Ci, Permaisuri Prabu Brawijaya V bernama Ratu Darawati, seorang putri Champa sangat cemburu dan meminta sanga raja menceraikan Siu Ban Ci.

Meski awalnya raja tak mau, tetapi Siu Ban Ci akhirnya diceraikan dan diberikan kepada Arya Damat atau Jaka Dilah atau Swan Liong, seorang keturunan Tionghoa yang berkuasa di Palembang pada abad ke-14. Kerajaan Palembang saat itu masih di bawah Kerajaan Majapahit.

Siu Ban Ci akhirnya dinikahi Arya Damar hingga akhirnya sang Sultan Demak akhirnya lahir.

Dikisahkan, setelah lama tinggal di Palembang, Raden Patah muda merantau ke Pulau Jawa. Dia naik kapal dagang hingg ke pesisir timur. Setelah itu, Raden Patah berguru ke Sunan Ampel untuk belajar agama.

Saat belajar dengan Sunan Ampel, Raden Patah bersama dengan santri lain yang juga belajar agama. Mulai dari Raden Paku (Sunan Giri), Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Kosim (Sunan Drajat).

Setelah ilmunya mumpuni, Raden Patah diminta Sunan Ampel untuk meneruskan perjuangan dengan mencari daerah yang terlindungi tanaman gelagah wangi.

Raden Patah pun terkenal dengan panggilan Jimbun yang merantau ke barat.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Raden Patah menemukan rawa di tepi Pulau Muryo (Muria). Kawasan itu berupa rawa-rawa yang sangat luas.

Dikisahkan rawa-rawa itu begitu luas seolah menutup lautan yang memisahka Pulai Muryo dengan daratan di Jawa Tengah.

Raden Patah mendapatkan petunjuk dari Sunan Ampel yakni gelagah wangi. Dia pun menemukan pohon gelagah yang harum. Di sanalah Raden patah mendirikan rumah dan menetap di sana.

Wilayah itulah yang kini dikenala sebagai Demak Bintara.
Tak heran, Raden Patah dikenal sebagai Pangeran Bintara di kaki Gunung Muria.

Dalam perkembangannya, Demak menjadi kawasan pemukiman yang ramai.

Dalam Babad Demak Pesisiran, dikisahkan keberadaan kawasan pemukiman baru ini diketahui oleh Raja Majapahit yakni Brawijaya V yang kono ayah dari Raden Patah.

Raja Brawijaya V pun mengirim utusan untuk melihat kawasan tersebut. Utusan yang dikirim merupakan Raden Husein yang merupakan adik dari Raden Patah.

Raden Husein menyampaikan maksud Raja Brawijaya V membawa Raden Patah ke Majapahit. Anak dan ayah itu pun akhirnya bisa bertemu.

Dalam buku Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia, disebutkan, saat itu Raja Brawijaya V memberi izin kepada Raden Patah untuk memerintah Demak dengan gelar Adipati Majapahit.

Di bawah kepemimpinan Raden Patah, Demak berkembang sangat pesat. Sebab kepemimpinan Raden Patah juga didukung oleh Walisongo.

Oleh Walisongo, Raden Patah diminta mendirikan kerajaan Islam dan memisahkan diri dari Kerajaan Majapahit.

Raden Patah lalu mengumpulkan pengikutnya untuk membantu melepaskan diri dari Kerajaan Majapahit. Usaha itu mendapat dukungan dari beberapa wilayah di Jawa seperti, Jepara, Tuban, dan Gresik.

Raja Brawijaya V pun mendengar penyerangan pasukan Demak ke Majapahit.

Tak heran saat pasukan Demak sampai di istana, Raja Brawijaya V sudah melarikan diri. Pasukan Kesultanan Demak Bintoro pun bisa menaklukkan Kerajaan Majapahit tanpa perlawanan.

Raden Patah kemudian dinobatkan sebagai Raja Demak pertama.

Dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Ti,bulnya Negara Negara Islam di Nusantara, Kerajaan Demak berdiri pada 1478, setahun sebelum berdirinya Masjid Agung Demak.

Namun sejarawan banyak yang menyebut bahwa Kesultanan Demakberdiri pada 1.500. Sebab perlu rentah waktu 21 tahun semenjak didirikannya Masjid Demak unttuk membangun pondasi dan kekuatan di Demak.

Raden Patah juga memperluas kekuasaan di pesisir Jawa, seperti Lasem, Tuban, Sedayu, Gresik, Cirebon, dan Banten.

Kesultanan Demak memiliki pelabuhan penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Jaratan, Tuban, dan Gresik.
Selain mampu menaklukkan Kerajaan Majapahit, Raden Patah juga diketahuan mampu mengalahkan para begal sadis yang menghalangi perjalananya.

Tak hanya itu, Raden Patah juga memiliki kehalian ilmu agama hingga mampu menjadikan pesantrenya menjadi tempat ilmu pengetahuan dan agama di Jawa.

Itulah profil dari Raden Patah dan kesaktiannya.

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#Raden Patah #gunung lawu #Bojonegoro Cepu #Kerajaan Demak #Prabu Brawijaya V #blora #Cepu Blora