BLORA - Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Provinsi Jateng pastikan semburan lumpur dan gas di sumur minyak tua di Dukuh Kedinding, Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban, tak terdapat gas beracun.
Sehingga masyarakat diimbau tak khawatir.
Pelaksana Tugas Kepala Cabang Dinas ESDM Wilayah Kendeng Selatan Provinsi Jateng Sinung Sugeng Ariyanto mengatakan berdasarkan pengukuran gas tidak ditemukan indikasi adanya gas beracun (H2S, CO dan CO2 di lokasi) sedangkan gas hidrokarbon angkanya mendekati nol.
"Dari pantauan Cabdin ESDM Kendeng Selatan tidak tercium adanya bau telur busuk (penciri gas H2S) hanya tercium bau minyak mentah namun tidak menyengat," katanya.
Selain itu berharap masyarakat tak khawatir. Lantaran jarak lokasi ke dusun terdekat (Kedinding) sekitar 520 meter.
Tak hanya itu, lokasi terletak di perladangan terbuka dan lahan produksi perhutani.
Sehingga saat tertiup angin tidak terjadi akumulasi gas yang tinggi dan aman dari perkampungan.
"Tidak ada korban jiwa saat kejadian namun untuk sementara masyarakat diimbau untuk tidak mendekati lokasi. Sehubungan di lapangan belum ada rambu-rambu peringatan, maka dari Cabdin ESDM Wilayah kendeng Selatan telah meminta kepada Pertamina untuk memasang rambu-rambu peringatan dan telah disanggupi pertamina untuk memasang rambu-rambu tersebut," katanya.
Menurutnya berdasarkan semburan terjadi karena fraksi gas dari reservoir migas merembes keluar melalui rekahan-rekahan atau zona lemah lainnya dari batuan penudung dan naik ke atas hingga terjebak kembali di lapisan batuan di atasnya (dekat permukaan).
Semakin lama gas tersebut terakumulasi dan punya tekanan besar melalui rekahan. Dari situlah kemudian keluar melalui bekas sumur tua.
Kemudian mendorong sumbatan berupa lumpur atau sedimen lainnya sehingga saat mencapai permukaan tanah. Dan terjadilah semburan gas bercampur air, lumpur dan minyak mentah.
"Semburan awal biasanya tinggi namun seiring berkurangnya gas dan tekanan semburan tersebut akan melemah dan ketinggian semburan akan berkurang," imbuhnya.
PT. Pertamina sendiri telah memasang 8 titik barier atau oil boom (dan bisa ditambah sesuai kebutuhan) di Creek Uyah sehingga alirannya tercegah tidak sampai Sungai Gelandangan dan dan Sungai Wado.
Pihak Polda Jawa Tengah, Polres Blora dan Polsek kedungtuban juga telah mengamankan lokasi dan memasang garis polisi untuk mencegah masyarakat masuk ke lokasi. (tos/zen)
Editor : Ali Mustofa