Acara makin meriah dengan diawali tari tayub dari guru-guru se-Kabupaten Blora.
Selanjutnya, digelar festival berkebaya yang diikuti para istri forum koordinasi pimpinan daerah (forkompimda), para guru SD, SMP, ibu-ibu organisasi wanita, hingga seluruh perwakilan dari 16 kecamatan di Blora.
Bupati Arief Rohman mengatakan, selain dalam Rangka Jadi ke-275 Blora, kegiatan ini untuk turut memeriahkan Hari Kebaya Nasional yang jatuh pada 24 Juli lalu.
Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 19 Tahun 2023 tentang Hari Berkebaya Nasional. Acara ini juga merupakan tindak lanjut Keppres tersebut.
”Sungguh luar biasa. Saya apresiasi kepada Panjenengan yang telah menyisihkan waktu untuk berlatih demi suksesnya acara ini (Festival Berkebaya), di luar waktu mendidik putra-putri kami," terangnya.
Seperti diketahui, kebaya melambangkan karakter masyarakat Indonesia yang sabar, anggun, lemah lembut, sopan, dan bersahaja. Secara filosofis, potongan kebaya selalu mengikuti bentuk tubuh.
Artinya, perempuan diharuskan bisa menyesuaikan diri dan menjaga diri sendiri di manapun mereka berada.
”Jika maknai lebih dalam, sesungguhnya ini pengingat, bukan hanya untuk perempuan, tapi untuk kita semua,” terangnya.
Dia menuturkan, Blora Berkebaya ini, menjadi salah satu ajang yang baik bagi para desainer lokal untuk menghasilkan karya dan kreasi baru.
Melalui giat ini diharapkan dapat menimbulkan ketertarikan masyarakat, terutama generasi muda, untuk menggunakan kebaya di berbagai kesempatan, tentunya dengan rasa bangga.
Bupati berharap, kegiatan ini dapat menambah wawasan dan kecintaan pada warisan leluhur.
Juga selalu berupaya untuk melestarikan dan mempertahankan warisan budaya, sehingga identitas bangsa Indonesia tetap terjaga.
”Semoga dengan adanya festival ini pula para desainer lokal semakin bersemangat dalam berkarya. Masyarakat juga bisa semakin bangga memakai karya dan produk lokal, sehingga menggerakkan hati untuk terus melestarikan budaya Indonesia," harapnya.
Latifha Nurul Saputri, salah satu warga Blora yang menyaksikan Festival berkebaya mengaku terhibur dengan tari kolosal dan festival ini. Hal ini tentu bentuk nguri-uri peninggal orang terdahulu.
”Bagus dan menarik. Acara ini sekaligus untuk mengingatkan para generasi muda sekarang untuk cinta pada budaya Indonesia. Termasuk budaya memakai kebaya," katanya. (tos/lin)
Editor : Noor Syafaatul Udhma