Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kasus Besar yang Diungkap Wakapolri Asal Blora Komjen Pol Agus Andrianto : Dari Ahok hingga Ferdy Sambo

Abdul Rokhim • Senin, 16 September 2024 | 19:07 WIB
BANTU WARGA: Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto (tengah) meninjau kegiatan baksos berupa layanan fisioterapi kepada warga Blora baru-baru ini.
BANTU WARGA: Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto (tengah) meninjau kegiatan baksos berupa layanan fisioterapi kepada warga Blora baru-baru ini.

BLORA – Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto ternyata pernah menangani kasus besar dan menantang.

Lumrah jika Agus mendapat banyak penghargaan dari negara.

Total ada 14-an penghargaan yang ia terima.

Polisi yang lahir di daerah Desa Mlangsen, Blora, yang notabenya daerah kecil itu justru berhasil meniti karir dengan sangat sukses. 

Mulai dari Wakil Kepolisan daerah Sumut pada 4 Januari 2017 hingga 13 Agustus 2018.

Kemudian Kepala Kepolisian Daerah Sumur mulai dari 13 Agustus 2018 hingga 6 Desember 2019. 

Dilanjutkan Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Polri mulai 6 Desember 2019 hingga 18 Februari 2021.

Dilanjutkan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri ke-22 mulai 18 Februari 2012-24 Juni 2023 dan sekarang ini sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia mulai 14 Juni 2023. 

Sejumlah penghargaan pun berhasil diraihnya.

Berikut adalah beberapa kasus penting yang pernah ditangani Agus Andrianto

1. Kasus Pembunuhan Hakim Jamaluddin

Pembunuhan Hakim Pengadilan Negeri Medan, Jamaluddin, terjadi pada tahun 2019.

Korban ditemukan tewas di dalam mobilnya yang terperosok di Dusun II Nako Rindang, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, pada Jumat, 29 November 2019.

Jenazahnya ditemukan terbaring di kursi belakang mobil.

Saat itu, Agus Andrianto menegaskan bahwa Jamaluddin adalah korban pembunuhan. Ia menduga pelaku memiliki hubungan dekat dengan korban.

"Sedang didalami, tapi dugaan kita orangnya tidak jauh dari korban," ujarnya kala itu.

Agus kemudian dimutasi untuk jabatan baru sebagai Kabaharkam Polri sebelum sempat mengungkap pelaku.

Setelah penyelidikan lanjutan, terungkap bahwa otak di balik pembunuhan tersebut adalah istri korban, Zuraida Hanum, yang bekerja sama dengan dua eksekutor.

2. Bom Bunuh Diri Polrestabes Medan

Pada 13 November 2019, sebuah bom bunuh diri terjadi di Mapolrestabes Medan.

Pelaku, Rabbial Muslim Nasution, menggunakan jaket ojek online saat memasuki markas kepolisian.

Setelah sempat diperiksa tanpa mencurigakan, pelaku meledakkan diri di dekat kantin SKCK sekitar pukul 08.45 WIB.

Agus Andrianto mengungkapkan bahwa pasca kejadian, Densus 88 Antiteror berhasil menangkap 23 tersangka, dengan tiga di antaranya tewas.

Para pelaku diduga berlatih di Kabupaten Karo, Sumut, dan di kediaman mereka ditemukan sejumlah senjata rakitan.

3. Pembunuhan Eks Caleg di Labuhanbatu

Agus juga menangani kasus pembunuhan mantan calon legislatif NasDem, Maraden Sianipar, dan simpatisannya, Martua P Siregar.

Jasad keduanya ditemukan di perkebunan sawit di Labuhanbatu pada akhir Oktober 2019.

Polda Sumut berhasil menangkap lima tersangka, yang semuanya memiliki peran berbeda dalam pembunuhan ini.

Agus menjelaskan bahwa motif pembunuhan didasari konflik lahan kelapa sawit, di mana salah satu pelaku, WP alias Harry, berperan sebagai penyedia dana untuk menghabisi nyawa korban.

4. Kasus Penistaan Agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

Komjen Pol Agus Andrianto turut andil dalam penanganan kasus penistaan agama yang melibatkan eks Gubernur DKI Jakarta, Basuki Thaja Purnama atau Ahok pada 27 September 2016.

Ahok dilaporkan oleh sejumlah ormas ke polisi, dan pada 16 November 2016, jaksa menuntut Ahok dengan hukuman penjara satu tahun danmasa percobaan dua tahun.

5. Kasus Ferdy Sambo

Saat menjabat sebagai Kepala Kabareskrim, Agus Andrianto mengungkap peran Ferdy Sambo dalam pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

 

Bharada E menembak Brigadir J atas perintah Irjen Ferdy Sambo, yang juga membuat skenario tembak-menembak di rumah dinasnya di Komplek Polri Duren Tiga.

Empat tersangka dalam kasus ini dikenai Pasal 340 subsider Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Masa Kecil Komjen Agus Andrianto

Sejak kecil, Komjen Agus dikenal sebagai sosok yang ulet, pekerja keras, dan rajin beribadah.

Hal tersebut disampaikan oleh adiknya, Agus Oni Setiawan.

"Kakak saya itu pekerja keras dan rajin ibadah, dari dulu memang begitu," ujar Oni.

Oni juga menyebut bahwa sang kakak selalu menjadi panutan dalam keluarga, seorang yang tidak pernah neko-neko dan patuh kepada orang tua.

Menurutnya, Agus Andrianto sejak kecil sudah dikenal sebagai anak yang rajin membantu orang tua.

Setiap pagi, Aguslah yang paling dulu bangun untuk membantu ibunya memasak dan membantu ayahnya mencuci.

Selain rajin membantu, Komjen Agus ternyata memiliki keahlian memasak.

“Beliau juga pandai membuat sambal dan fasih memarut kelapa untuk masakan bersantan,” kenang Oni sambil tertawa.

Komjen Pol Agus Andrianto menghabiskan masa pendidikannya di Blora, mulai dari SD hingga SMA.

 

Kedisiplinan, ketekunan, serta kebiasaannya membantu orang tua telah membentuk karakternya hingga berhasil mencapai posisi tinggi dalam karirnya di kepolisian.

Kehadiran Komjen Agus di kampung halamannya ini tidak hanya menandai pentingnya program kerja yang ia emban, tetapi juga mengingatkan akan akar kehidupan sederhana yang menjadi fondasi kesuksesannya kini.

Penyesalan Sang Jenderal

Meski sudah menyandang status sebagai orang nomor dua di Polri, hal itu tak lantas membuat Komjen Pol Agus Andrianto bahagia.

Pasalnya, putra asli Blora itu ternyata punya penyesalan mendalam selama menjadi Wakapolri.

Sebab, Komjen Pol Agus Andrianto merasa belum bisa membahagiakan sang ibunda.

Sehingga, ia merasa menyesal sekalipun sudah menjadi orang penting di kancah nasional.

Untuk diketahui, jenderal bintang tiga Polri itu merupakan anak ke-11 dari 12 saudara.

Dari 11 saudaranya itu Andri -sapaan masa kecil Komjen Agus Andrianto- terbilang paling sukses.

Meski demikian, ia punya penyesalan paling mendalam.

Penyesalan itu muncul karena meski jadi Wakapolri ia tidak sempat membahagiakan sang ibunda.

Untuk diketahui, Sang ibunda Sri Sudaryati berpulang saat sang jenderal bintang tiga itu masih menjalani pendidikan tingkat satu di Akpol 1986.

Cerita itu disampaikan langsung oleh adik bungsu Jenderal Agus Andrianto, Agus Oni Setiawan.

"Beliau (Komjen Agus Andrianto, Red) pernah bercerita kepada saya. Satu hal yang sangat disesalkan beliau adalah belum sempat membahagiakan ibu kandung kami," tambahnya.

Saat kehilangan sang ibu itu, semua anak merasa sangat kehilangan. Termasuk Komjen Pol Agus Andrianto.

Oni bercerita pada saat sang jenderal masih usia sekolah, Andri merupakan seorang yang patuh dengan kedua orang tuanya.

Setiap pagi, dialah yang bangun paling dulu, kemudian membantu ibunya untuk memasak.

Dilanjutkan dengan membantu bapaknya untuk mencuci.

"Yang paling saya ingat adalah beliau itu pribadi yang sangat rajin membantu orang tua dan ibadah," imbuhnya.

Tak hanya itu sang jenderal juga terntaya pintar menyambal.

"Beliau juga fasih dalam marut klopo (memarut kelapa) untuk bikin santan, untuk masak yang bersantan," tambahnya.

Kini, saat pulang kampung, Komjen Pol Agus Andrianto tetap menunjukkan rasa baktinya kepada sang ibunda.

Setiap pulang ia selalu berziarah ke makam almarhumah sang ibunda.

Hal itulah yang menurutnya bisa jadi menjadi kunci sukses sang kakak. Yakni kepatuhanya dan baktinya pada kedua orang tua.

"Setiap berkunjung ke kampung halaman, satu yang beliau pasti laksanakan adalah ziarah di makam orang tua," tuturnya.

Mungkin jalan beliau yang mulus itu adalah berkah dari kepatuhan beliau dengan orang tua.

Saat masih sekolah, Oni memandang bahwa perjalanan pendidikan kakak kandungnya itu juga terhitung mulus.

Sebab, yang bersangkutan tidak pernah neko-neko.

Mulai dari SD Tempelan, SMPN 1 Blora, SMAN 1 Blora, serta mendaftar di Akpol dan langsung diterima. 

(khim)

Editor : Abdul Rokhim
#Jenderal blora #wakapolri #wakapolri asal blora #Komjen Pol Agus Andrianto #Lahir di blora #tokoh terkenal blora #Profil wakapolri