RADAR KUDUS – Blora menjadi salah satu kabupaten di Jawa Tengah. Lokasinya berada di paling timur Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Jawa Timur.
Blora memiliki luas 1.820,59 kilometer persegi yang dihuni oleh 884.333 jiwa berdasarkan data 2020.
Baca Juga: Pernah Raih Penghargaan Nasional, Wisata Desa Nglobo Blora Maksimalkan Potensi Hutan dan Sumur Tua
Asal Usul Kabupaten Blora
Asal usul nama Blora berasal dari dua kata yakni Wai dan Lorah. Wai berarti udara, sedangkan Lorah berartiu jurang atau tanah yang rendah.
Seiring perkembangan zaman, masyarakat Jawa seringkali mengubah pengucapan W menjadi B. Dari Wailorah menjadi Bailorah yang kemudian menjadi Blora. Blora itu sendiri berarti tanah rendah berair atau berlumpur.
Dalam cerita rakyat, sebagian besar warga meyakini kata Blora berasal dari kata Belor yang berartiu lumpur.
Dalam sejarah, Kabupaten Blora sudah ada sejak zaman kerajaan Demak Bintoro.
Pada saat itu, Blora masuk ke wilayah Kadipaten Jipang yang dipimpin oleh Arya Penangsang.
Wilayahnya meliputi Jipang, Blora, Lasem, hingga Pati. Kemudian wilayah Blora menjadi Kerajaan Pajang seiring dengan perpindangan pusat pemerintahan Demak ke Pajang oleh Sultan Hadiwijaya.
Pada masa Mataram Islam, Blora termasuk di daerah Bang Wetan. Saat masa pemerintahan Pakubuwana I, Blora diserahkan kepada puteranya bernama Pangeran Blitar. Pangeran Blitar yang kemudian diberi gelar Adipati itu mengella Blora dengan luas 3.00o hektare.
Blora itu sendiri dimulai pada tahun 1749, tepatnya saat pemberontakan Pengeran Mangkubumi kepada Mtaram Islam.
Saat itu Mangkubumi merebut takhta pada 11 Desember 1749 dengan wilayah kekuasaan meliputi Blora, Grobogan, Jogjakarta, Demak, dan Sukawati.
Setelah itu, Mangkubimi mengangkat kekuasaannya. Blora saat itu diserahkan kepada Tumenggung Wilatikta dan tercatat sebagai Bupati Blora pertama.
Pemberontakan Mnagkubumi akhirnya berakhir degan perjanjian Giyanti.
Dari perjanjian itu, Mataram Islam terpecah menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Jogjakarta.
Dalam perjanjian itu, Blora masuk ke dalam kekuasaan Kasunanan Surakarta.
Blora Memiliki Banyak Julukan
Sama seperti kota-kota lain yang memiliki julukan, Kabupaten Blora juga memiliki banyak sebutan.
Karena terkenal dengan kuliner satenya, Kabupaten Blora juga mendapat julukan Kota Sate. Selain itu Blora juga penghasil kayu jati berkualitas tak heran, kabupaten ini juga mendapat julukan Kota Kayu Jati.
Tak hanya itu, Kabupaten Blora juga dijuluki sebagai Kota Barongan dan Kota Samin.
Namun julukan yang paling terkenal yakni Blora Kota Sate. Hal ini disebabkan Blora memiliki olahan sate dengan bumbu khas. Selain itu, sate Blora juga disajikan dengan cara berbeda dari sate lainnya.
Baca Juga: Bayi asal Ngawen Blora Meninggal di Inkubator, Begini Penjelasan Pihak Rumah Sakit
Sate khas Blora disajikan dengan nasi yang diberi kuah opor kuning. Selain itu, nasi kuah opor ini diletakkan di wadah dari daun jati.
Uniknya saat kamu ciuman sate Blora kamu akan disuguhi beberapa tusuk sate. Biayanya akan dihitung dari berapa tusuk sate yang digunakan.
Penghasil Kayu Jati Terbaik
Blora juga dikenal sebagai penghasil kayu jati. Sebab nyaris separuh dai wilayah Blora merupakan hutan jati. Kayu dan akra kayu jati diolah menjadi kerajinan bernilai tinggi yang diekspor hingga ke Eropa.
Memiliki Fosil Purbakala
Di Kabupaten Blora juga terdapat benda purbakala yang ditemukan di beberapa desa. Fosil yang ditemukan yakni paus hingga banteng purba.
Penghasil Minyak Bumi di Blok Cepu
Tak hanya itu, Blora juga penghasil minyak di Indonesia. Tepatnya di Cepu. Sejak zaman penjejahan Belanda, Cepu dikenal memiliki cadangan minyak bunyi yang besar. Konon kandungan minyak di Blora mencapai ribuan hektare.
Editor : Noor Syafaatul Udhma