BLORA - Hal yang tak biasa dilakukan siswa SDN 2 Cabean, Kecamatan Cepu. Mereka terpaksa harus menumpang di rumah warga dalam menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM).
Sebab, gedung sekolah mereka direhabilitasi total.
Meski tak nyaman dengan lantai yang beralaskan tanah, ruangan gelap dan debu yang berterbangan, mereka terpaksa mengikuti KBM di rumah-rumah warga di sekitar sekolah.
Kerusakan sekolah yang parah dan sertifikat tanah sekolah yang belum jelas kepemilikannya membuat SDN 2 Cabean lama tak tersentuh perbaikan.
Renovasi total itu dilakukan saat sertifikat tanah SDN 2 Cabean mendapatkan hibah tanah dari desa.
Kepala Sekolah SDN 2 Cabean Siti Mutmainnah menjelaskan, saat ini pihaknya telah menumpang di empat rumah warga yang tidak ditempati dan berada di sekitar sekolah.
Namun, ia tak mengetahui nama pemilik rumah yang ditempati untuk KBM.
"Selama perbaikan, sementara siswa kelas I dan II menempati rumah kosong milik Nardi. Kelas III dan IV digabung di rumah Juharmanik. Untuk kelas V dan VI ini perlu konsentrasi tinggi untuk belajar, maka terpisah di dua rumah warga milik Sahid dan Jumirah," jelasnya.
Ia mengatakan, jarak antara sekolah dan rumah warga yang digunakan KBM kelas I,II, III dan IV sekitar 50 meter. Untuk rumah yang digunakan kelas V dan VI ada di depan sekolah.
"SDN 2 Cabean ini sudah lama tidak tersentuh perbaikan dan sudah lama diusulkan. Namun belum pernah dapat diakibatkan sertifikat tanah yang ditempati belum jelas. Syukur Alhamdulillah tahun ini sertifikat tanah sekolah menjadi milik desa dan mampu mendapat bantuan dana alokasi khusus (DAK)," ujarnya.
Ia mengungkapkan, untuk rehabilitasi total ini yang dibangun ada lima ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang laboratorium, ruang unit kesehatan sekolah (UKS) dan toilet.
Anggaran DAK yang didapat untuk membangun 10 gedung baru sebanyak Rp 1,4 miliar. Untuk bangunan lama yang tidak direhabilitasi yakni perpustakaan dan ruang kelas VI yang baru dibangun awal tahun lalu.
"Saat ini proses pembangunan yang dimulai dari akhir Juli sampai Desember sudah mencapai 30 persen. Ke depannya kami berharap bisa lebih cepat dan tepat waktu agar anak-anak bisa belajar dengan semestinya," harapnya. (ari/ali)
Editor : Abdul Rokhim