RADAR KUDUS – Gunung Lawu, salah satu gunung tertinggi di Jawa menyimpang banyak kisah mistis dan misteri.
Sebab Gunung Lawu menjadi pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa yang berhubungan dengan tradisi dan budaya keraton Jogjakarta dan Solo.
Misalnya upacara labuhan setiap bulan Suro.
Tak hanya itu, Gunung Lawu juga menjadi tempat ziarah pada malam 1 Suro.
Sebab setiap Suro diadakan upacara sesaji di Gunung Lawu.
Salah satunya mitos misterius lainnya yakni petilasan Hargo Dalem yanga berada di puncak Gunung Lawu.
Di Hargo Dalem itulah diyakini sebagai tempat Prabu Brawijaya V moksa sekaligus mengeluarkan larangan warga Cepu Blora dan Bojonegoro, khusus keturunan Adipati Cepu mendaki Gunung Lawu.
Prabu Brawijaya V merupakan raja dari Kerajaan Majapahit sekaligus mantan suami dari Siu Ban Ci, ibu dari Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak Bintoro.
Kisah awalnya bermula saat Prabu Brawijaya V diajak masuk Islam oleh anaknya yakni Raden Patah, Raja dari Kesultanan Demak Bintoro.
Ajakan itu membuat Prabu Brawijaya V atau Bhre Kertabhumi gundang dan memilih bermeditasi untuk memohon kepada Tuhan.
Dalam meditasi itu, Bhre Kertabhumi mendapat petunjuk bahwa Wahyu Kedaton akan dipindah ke Kesultanan Demak Bintoro.
Setelah itu, Prabu Brawijaya V memutuskan menyepi ke puncak Gunung Lawu bersama abdi setianya yakni Ki Sabdo Palon.
Di puncak Lawu itulah Prabu Brawijaya V bertemu dengan dua kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala.
Keduanya setia menemani rabu Brawijaya V ke puncak Gunung Lawu.
Awal Mula Mitos Eyang Lawu dan Kiai Jalan yang Antarkan Pendaki Kesasar di Gunung Lawu
Sesampainya di puncak Gunung Lawu atau Prabu Brawijaya V mulai bertapa kembali. Pertapaan itu dikenal dengan puncak Hargo Dalem.
Sedangkan Ki Sabdo Palon meninggalkan Prabu Brawijaya V dan bertapa di puncak lain yang disebut Hargo Dumilang.
Sebelum moksa, Prabu Brawijaya V mengangkat Dipa Menggala menjadi penguasa Gunung Lawu. Dia diberi kekuasaan untuk membawahi seluruh makhluk gaib yang ada di barat hingga Gunung Merbabu, dari timur sampai ke Gunung Wilis, dari selatan sampai ke Pantai Selatan dan dari Utara sampai ke Pantai Utara.
Dipa Manggala kemudian diberi gelar Sunan Gunung Lawu atau lebih kenal sebagai Eyang Lawu.
Sementara Wangsa Manggala diangkat menjadi patih dan diberi gelar Kiai Jalak
Mitos Kiai Jalak dan Eyang Lawu
Mitos tentang Sunan Gunung Lawu atau Eyang Lawu dan Kiai Jalak hingga kini masih diyakini sebagian pendaki.
Sebab beberapa pendaki Lawu kabarnya pernah bertemu Kiai Jalak yang berwujud buruk jalak saat berada di puncak Hargo Dalem. Buruk jalak di Gunung Lawu itu sering mengantarkan para pendaki yang tersesat di Gunung Lawu asal pendaki tersebut memiliki iat baik.
Tak hanya itu, ada beberapa pendaki yang mengaku didampingi Eyang Lawu agar tidak kesasar di Gunung Lawu.
Bila bernikat baik akan ditolong. Bila sebaliknya akan mendapat nasib buruk.
LawBaca Juga: Mitos Warga Cepu Blora dan Bojonegoro Dilarang Mendaki Gunung Lawu: Bermula dari Sumpah Prabu Brawijaya V
Itulah awal mulai mitos Kiai Jalak dan Eyang Lawu hingga Hargo Dalem serta Hargo Dumilang. Mitos-mitos ini diyakini bagi sebagian orang yang percaya. Bagi yang tidak, anggap saja sebagai hiburan.
Editor : Noor Syafaatul Udhma