RADAR KUDUS – Prabu Brawijaya V, salah satu raja di Kerajaan Majapahit yang melarang warga Cepu Blora dan Bojonegoro Jawa Timur khususnya keturunan Adipati Cepu ternyata dulunya beragama Hindu Buddha yang kemudian berpindah agama menjadi Islam.
Kerajaan Majapahit diketahui merupakan kerajaan Hindu Buddha.
Kerajaan ini berdiai pada 1293 masehi hingg 1527 masehi menguasai nusantara.
Sebab luas wilayah kerajaan ini cukup luas dari Jawa hingga Nusa Tenggara.
Puncak kejayaan Kerajaan Majapahit terjadi pada masa Raja Hayam Wuruk.
Prabu Brawijaya V sendiri memerintah Kerajaan Majapahit pada 1468 hingga 1478 atau selama 10 tahun.
Kerajaan Majapahit Meninggalkan Prasasti hingga Candi
Kerajaan Majapahit ini diketahui memikiki corak Hindu Buddha yang dibuktikan dengan prasasti hingga candi.
Berikut Peninggalan Kerajaan Majapahit
- Kitab Negarakertagama
- Prasasti Prapanca Sarapura
- Candi Bajang Ratu di Trowulan Mojokerto
- Candi Brahu di Trowulan Mojokerto
- Candi Cetho di Karanganyar Jawa Tengah
- Candi Wringin Lawang di Trowulan Mojokerto
- Candi Penataran di Blitar, Jawa timur
- Candi Jabung di Probolinggo Jawa Tengah
- Candi Sukuh di Karanganyar Jawa Tengah
- Candi Pari di Sidoarjo Jawa Timur
- Candi Tikus di Trowulan Mojokerto
Prabu Brawijaya V Memeluk Agama Islam setelah Bertemu Sunan Kalijaga
Berdasarkan buku berjudul Sejarah Kelam Majapahit yang ditulish oleh Mardiyono, Prabu Brawijaya V berpindah agama dari Buddha ke Islam serelah berbincang dengan Sunan Kalijaga.
Salah satu alasannya pindah agama Islam yakni karena Prabu Brawijaya V terpesona dengan kecantikan Dewi Sari.
Sebelum menjadi mualaf, Prabu Brawijaya V dikisahkan sudah memiliki keinginan untuk memeluk agama Islam.
Saat itu Prabu Brawijaya V menerima tamu di istana Majaphit yakni Syekh Maulan Malik Ibrahim dan Raja Cermain.
Keduanya lalu mengenalkan Islam kepada Prabu Brawijaya V.
Namun karena Prabu Brawijaya V tidak ada niatan sungguh-sungguh, Syekh Maulana Malik Ibrahim menasihati Prabu Brawijaya V untuk mengurungkan niatnya memeluk Islam.
Raden Patah atau Pangeran Jinbun, anak dari Prabu Brawijaya V yang juga raja dari Kesultanan Demak berusaha mengajak ayahnya masuk Islam.
Namun Prabu Brawijaya V kokoh untuk tetap memeluk agamnya.
Hingga Raden Patah meminta bantuan Sunan Kalijaga yang saat itu menjabat sebagai penasihat kegamaan Kesultanan Demak untuk mengajak Prabu Barwijaya V masuk Islam.
Alasannya karena Sunan Kalijaga memiliki karomah dan kesaktian.
Selain itu dia juga menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.
Tak hanya itu, Sunan Kalijaga juga tergolong cucu dari Prabu Brawijaya V.
Sunan Kalijaga kemudian diminta ke Istana Prabu Brawijaya V, tepatnya di pesanggrahan yang ada di Gunung Lawu yang saat itu terkenal sebagai tempat angker dan dihuni makhluk halus.
Dalam Serat Darmoghandhul dijelaskan bahwa Sunan Kalijaga lebih banyak menggunakan bahasa sastra yang sarat akan simbol dan metafora.
Dengan cara itu, Sunan kalijaga mulai luluh dan memeluk agama Islam.
Sebelum mengucapkan syahadat, Prabu Brawijaya V memutuskan untuk mencukur rambut dan mandi besar sebagai syarat memeluk agama Islam.
Kemudian Prabu Barwijaya V mengucapkan dua kalimat syahadat dipandu Sunan Kalijaga.
Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Prabu Brawijaya V benar-benar memeluk Islam dihadapan Sunan Kalijaga.
Tak hanya setelah itu, Prabu Barwijaya V meninggal dunia karena sakit. Dia dimakamkan dengan cara Islam di Trowulan, tepatnya di sebelah timur laut kolam Segaran, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
Kompleks makamnya hingga kini ramai diziarahi peziarah dari berabagai wilayah di Indonesia.
Editor : Noor Syafaatul Udhma