RADAR KUDUS – Mitos soal warga Cepu Blora, Jawa Tengah hingga Bojonegoro, Jawa Timur yang tidak diperbolehkan mendaki Gunung Lawu jadi perbincangan masyarakat baru-baru ini.
Mitos larangan ini diketahui berawal dari sumpah yang dikeluarkan oleh raja terakhir Kerajaan Majapahit, Prabu Brawijaya V.
Dikisahkan, dahulu Prabu Brawijaya V mulanya mengasihkan diri karena kejaran pasukan Adipati Cepu di gunung yang berada di perbatasan Karanganyar, Jawa Tengah dengan Magetan, Jawa Timur.
Karena hal itulah, Prabu Brawijaya V mengasingkan diri di salah satu puncak Gunung Lawu yakni Hargo Dalem.
Saat itu, Prabu Brawijaya V mengasingkan diri ke pucuk Gunung Lawu.
Di pucuk Gunung Lawu, Prabu Brawijaya V mengeluarkan sumpah kepada Adipati Cepu.
Sumpah itu berisi orang-orang dari daerah Cepu atau keturunan langsung Adipati Cepu naik ke Gunung Lawu, maka akan celaka.
Karena sumpah itulah, sebagian orang di Cepu Blora dan Bojonegoro tidak berani naik ke Gunung Lawu, khususnya keturunan Adipati Cepu.
Meski demikian, banyak orang yang tidak percaya akan mitos tersebut.
Sebab, banyak orang Bojonegoro yang telah mendaki Gunung Lawu dan berhasil dengan selamat.
Namun, bagi sebagian orang Cepu Blora banyak juga yang mempercayai akan mitos tersebut.
Sosok Prabu Brawijaya V Jadi Raja Terakhir Majapahit
Dikutip dari Babad Jaka Tingkir, Babad Pajang yang dialihbahasakan oleh Moelyono Sastronaryatmo, Prabu Brawijaya V yang bernama kecil Raden Alit merupakan raja terakhir Kerajaan Majapahit sebelum runtuh.
Ia adalah keturunan ketujuh dari raja-raja terdahulu yang pernah berkuasa di Majapahit.
Prabu Brawijaya juga dikenal sebagai Bhre Kertabumi seperti yang disebutkan dalam Serat Pararaton.
Namun, ada pandangan lain yang menyatakan bahwa Brawijaya V kemungkinan lebih identik dengan Dyah Ranawijaya, yakni tokoh yang mengklaim dirinya sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri setelah berhasil menaklukkan Bhre Kertabumi pada tahun 1486.
Dengan berdirinya Kerajaan Majapahit selama kurang lebih 100 tahun lamanya, Brawijaya V berkuasa sekitar 10 tahun pada 1468-1478 Masehi sebelum keruntuhan kerajaan.
Dijelaskan bahwa ia mengambil alih tahta setelah Prabu Bratanjung, yaitu ayahnya.
Ia memerintah dalam waktu yang cukup lama atau sejak putra sulungnya yang bernama Arya Damar belum lahir hingga pada akhirnya turun takhta karena ada konflik internal kerajaan.
Setelah itu, peran kepemimpinan dilanjutkan oleh anaknya yang lain, yakni Raden Patah dari Kerajaan Demak.
Hingga saat ini masih terdapat perdebatan mengenai titelnya sebagai raja terakhir Majapahit.
Persoalannya, nama Brawijaya tidak pernah ditemukan pada temuan prasasti yang memuat nama-nama raja Majapahit.
Justru disebutkan raja terakhir Majapahit adalah Girindrawarddhana yang berkuasa pada 1474-1519. Dalam kata lain, Brawijaya hanya dikenal sebagai seorang raja Majapahit melalui catatan-catatan dalam babad dan serat.
Prabu Brawijaya V Mualaf Berkat Sunan Kalijaga
Menilik buku Sejarah Kelam Majapahit oleh Peri Mardiyono, Brawijaya V setuju untuk mengubah agamanya dari Buddha ke Islam saat berbincang dengan Sunan Kalijaga.
Alasan mualafnya Brawijaya V adalah karena ia terpesona akan kecantikan Dewi Sari.
Akan tetapi, sejumlah pengikutnya menolak untuk memeluk Islam dan memilih untuk melanjutkan perjalanan mereka ke Bali.
Setelah mengambil keputusan untuk masuk Islam, Brawijaya V yang ditemani oleh Sunan Kalijaga kembali ke Majapahit.
Tak lama kemudian, ia pun meninggal karena sakit dan dikebumikan dengan upacara Islam di Trowulan, tepatnya di sebelah timur laut kolam Segaran.
Sebelum wafat, Brawijaya V atau Bhre Kertabhumi menulis surat kepada Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga guna meminta mereka untuk menerima kekalahan Majapahit dari Demak.
Ia juga meminta agar kedua adipati itu mengabdi kepada Demak Bintara yang berhasil mengalahkan Majapahit di Trowulan, serta untuk menghindari pertempuran lebih lanjut.
Prabu Brawijaya V juga memberikan wasiat agar makamnya dinamai Makam Sastrawulan dan di atas batu nisannya dituliskan nama Putri Campa sebagai tanda bahwa ia dikalahkan oleh anaknya sendiri, Raden Patah.
Saat ini, kompleks makamnya masih dapat dikunjungi atau diziarahi.
Lokasinya terletak di sisi timur laut kolam Segaran dan dikenal sebagai kompleks Makam Panjang yang berada di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur.
Trah Prabu Brawijaya V Berjumlah 117 Anak
Melansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen, Brawijaya V memiliki 117 anak dari berbagai istri dan selir yang mayoritas berasal dari kerajaan atau penguasa yang mengakui kekuasaan Majapahit.
Untuk menjaga hubungan baik dan menghindari konflik, sang raja tidak bisa menolak persembahan atau upeti dari wilayah taklukan tersebut.
Sebaliknya, jumlah anak yang sangat banyak justru menguntungkan guna mempertahankan kekuasaan di wilayah yang luas.
Setelah dewasa, beberapa putra diberikan jabatan penguasa di berbagai wilayah, sementara putri-putrinya dinikahkan dengan penguasa lain untuk memperkuat hubungan.
Di sisi lain, ada juga yang menyebutkan bahwa raja hanya memiliki lima orang istri.
Lima di antaranya sebagai berikut yang disadur dari buku terbitan Lembaga Penelitian Pemberdayaan Birokrasi dan Masyarakat Ponorogo berjudul Raden Bathoro Katong.
1. Dwarawati atau Putri Campa
2. Raksasa yang menyamar sebagai seorang putri bernama Ni Endang Sasmitapura
3. Siu Ban Ci atau Putri Cina
4. Bondrit Cemara atau Putri Wandan Kuning
5. Putri Bagelen
Beberapa anak Prabu Brawijaya V yang menjadi pemimpin besar, antara lain Raden Patah dan Bondan Kajawan.
Raden Patah adalah pendiri Kesultanan Demak atau kerajaan Islam pertama di Jawa.
Sementara Bondan Kajawan yang merupakan anak Wandan Kuning disebutkan sebagai leluhur alias nenek moyang dari raja-raja Mataram Islam. (*/khim)
Editor : Abdul Rokhim