BLORA - Belum lama ini atau sekitar awal Juli 2024 Arief Rohman yang tak lain bupati Blora mendeklarasikan diri untuk maju di Pilkada 2024. Pasangannya Sri Setyorini.
Jargon yang diangkat adalah Blora berkelanjutan, Sesarengan Mbangun Blora.
Profil sosok Sri Setyorini ternyata tak sembarangan.
Dia adalah kakak kandung dari Wakapolri Komjen. Pol. Agus Andrianto.
Agus Andriyanto ternyata anak ke-11 dari 12 bersaudara. Dari Pasangan Sukarsono dan Sri Sudaryati.
Sang ayah berprofesi sebagai PNS dengan jabatan terakhir yaitu Camat Banjarejo, Blora, dan pensiun pada 1982.
Keenam anak laki-laki pasangan Sukarsono dan Sri Sudaryati diberi nama Agus.
Termasuk Agus Andriyanto saudara lainnya namanya Agus Oni Setiawan.
Sementara, anak-anak perempuannya diberi nama Sri.
Nama Agus disematkan karena karakter yang lebih laki-laki.
Sementara, Sri memiliki alasan lebih perempuan.
Karena namanya ada Agusnya, maka panggilan anaknya tidak Agus atau Sri tetapi nama panggilan belakang.
Dari sekian saudaranya, kakak dari Agus Andrianto ternyata Sri Setyorini, calon wakil bupati Blora.
Pasangan dari calon bupati Blora Arief Rohman.
Sri Setyorini sendiri lahir pada 29 Mei 1959 dan tinggal di Jalan Cempaka Nomor 9 Blora.
Sri Setyorini kecil pernah bersekolah di SDN 1 Jeti Blora dirinya lulus tahun 1968-1974.
Dirinya kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN 1 Blora di tahun 1974-1976.
Kemudian dirinya melanjutkan ke SMAN 1 Blora lulus 1980.
Sri Setyorini juga dikenal pengusaha ulet.
Dia juga pernah menjabat sebagai direktur CV Karina.
Kemudian, Komisaris Utama Rumah Sakit Permata Blora tahun 2024 sampai 2029.
Serta, Komisaris Blora Karsa Karya Energi.
Maju di Pilkada Blora 2024
Sebelumnya, Sri Setyorini mendapatkan rekomendasi dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk maju di Pilkada Blora 2024 mendatang.
Dirinya bakal berpasangan dengan Arief Rohman yang kini masih menjabat sebagai Bupati Blora.
Kepastian pasangan itu diketahui setelah Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep yang menyerahkan dan mengumumkan sendiri rekomendasi itu ke Kantor DPD PSI di Kota Semarang baru-baru ini.
Setelah mendapat rekomendasi dari PSI, Arief Rohman menyatakan kesiapannya mendukung dan memenangkan Pilkada 2024.
Ia juga menyatakan komitmennya untuk melanjutkan dan menjalankan transisi pemerintahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Prabowo Subianto sesuai pesan Kaesang.
"Bersama PSI kami juga komitmen untuk wujudkan mandat agenda Pilbup dan Pilgub. Tentu kami juga siap mendukung dan memenangkannya, termasuk siap mengamankan, mensukseskan transisi pemerintahan dari Pak Jokowi ke Pak prabowo," ucap Arief.
Tak cukup sampai sana, Arief Rohman dan Sri Setyorini diketahui juga telah mengantongi rekomendasi dari PKB dan Nasdem.
"Kami siap melanjutkan tradisi berkelanjutan dari Presiden Jokowi ke Presiden Prabowo. Program-program ke depan bisa selaras sinergi dari pusat sampai daerah,” katanya.
“Kami juga siap membantu PSI memilih anak milenial untuk mengisi kursi di Kabupaten Blora mendatang. Dan tentunya untuk mandat ini kami siap jalankan tugas dan amanat. Semoga semua ini bisa bermanfaat untuk masyarakat Blora," lanjutnya.
Penyesalan Sang Jenderal
Meski sudah menyandang status sebagai orang nomor dua di Polri, hal itu tak lantas membuat Komjen Pol Agus Andrianto bahagia.
Pasalnya, putra asli Blora itu ternyata punya penyesalan mendalam selama menjadi Wakapolri.
Wakapolri Komjen Pol Agus Andrianto merasa belum bisa membahagiakan sang ibunda.
Sehingga, ia merasa menyesal sekalipun sudah menjadi orang penting di kancah nasional.
Untuk diketahui, jenderal bintang tiga Polri itu merupakan anak ke-11 dari 12 saudara.
Dari 11 saudaranya itu Andri -sapaan masa kecil Komjen Agus Andrianto- terbilang paling sukses.
Meski demikian, ia punya penyesalan paling mendalam.
Penyesalan itu karena meski jadi Wakapolri ia tidak sempat membahagiakan sang ibunda.
Sang ibunda Sri Sudaryati berpulang saat sang jenderal bintang tiga itu masih menjalani pendidikan tingkat satu di Akpol 1986.
Cerita itu disampaikan langsung oleh adik bungsu Jenderal Agus Andrianto, Agus Oni Setiawan.
"Beliau (Komjen Agus Andrianto, Red) pernah bercerita kepada saya. Satu hal yang sangat disesalkan beliau adalah belum sempat membahagiakan ibu kandung kami," tambahnya.
Saat kehilangan sang ibu itu, semua anak merasa sangat kehilangan. Termasuk Komjen Pol Agus Andrianto.
Oni bercerita pada saat sang jenderal masih usia sekolah, Andri merupakan seorang yang patuh dengan kedua orang tuanya.
Setiap pagi, dialah yang bangun paling dulu, kemudian membantu ibunya untuk memasak.
Dilanjutkan dengan membantu bapaknya untuk mencuci.
"Yang paling saya ingat adalah beliau itu pribadi yang sangat rajin membantu orang tua dan ibadah," imbuhnya.
Tak hanya itu sang jenderal juga pintar menyambal.
"Beliau juga fasih dalam marut klopo (memarut kelapa) untuk bikin santan, untuk masak yang bersantan," tambahnya.
Kini, saat pulang kampung, Komjen Pol Agus Andrianto tetap menunjukkan rasa baktinya kepada sang ibunda.
Setiap pulang ia selalu berziarah ke makam almarhumah sang ibunda.
Hal itulah yang menurutnya bisa jadi menjadi kunci sukses sang kakak. Yakni kepatuhanya dan baktinya pada kedua orang tua.
"Setiap berkunjung ke kampung halaman, satu yang beliau pasti laksanakan adalah ziarah di makam orang tua," tuturnya.
Mungkin jalan beliau yang mulus itu adalah berkah dari kepatuhan beliau dengan orang tua.
Saat masih sekolah, Oni memandang bahwa perjalanan pendidikan kakak kandungnya itu juga terhitung mulus.
Sebab, yang bersangkutan tidak pernah neko-neko.
Mulai dari SD Tempelan, SMPN 1 Blora, SMAN 1 Blora, serta mendaftar di Akpol dan langsung diterima. (zen/tos/khim)
Editor : Abdul Rokhim