BLORA - Dinas Pendidikan Kabupaten Blora terus bekerja keras untuk meraih target predikat zero anak tidak sekolah (ATS).
Pasalnya masih banyak anak disabilitas yang rata-rata tidak sekolah.
Untuk itu, butuh tambahan sekolah luar biasa (SLB) khususnya di wilayah Blora Barat.
Sekretaris Dinas Pendidikan Blora, Nuril Huda mengatakan, ada sekitar 600 anak berkebutuhan khusus di Blora yang tidak sekolah.
Sementara, jumlah Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri di Kabupaten Blora hingga saat ini hanya ada 2 SLB.
"Keberadaan SLB memang berperan mengurangi angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Blora, hanya saja memang keberadaan SLB di Blora ini terbatas. SLB Negeri hanya di Blora dan Kedungtuban," ucapnya.
Ia menjelaskan, untuk jumlah angka ATS itu faktornya beragam.
Mulai dari ekonomi, jarak ke sekolah, hingga memang ATS tersebut termasuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Nuril menyampaikan dari total ATS di Blora, sebanyak 600 an anak termasuk ABK.
"Dari data, anak berkebutuhan khusus yang masuk sebagai ATS itu ada sekitar 600 an anak. Kalau dibuat rata-rata, setiap desa itu ada 2 orang ABK yang tidak sekolah," terangnya.
Nuril menjelaskan, berdasarkan amanat undang-undang yang ada, sekolah umum wajib menerima ABK sebagai siswa.
Mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga jenjang yang lebih tinggi.
"Secara aturan, sekolah umum wajib menerima anak berkebutuhan khusus dan tidak boleh menolak. Namun, hanya saja terkadang beberapa sekolah belum siap, lantaran belum semua guru memiliki kompetensi dalam menangani anak berkebutuhan khusus," paparnya.
Ia menambahkan, idealnya SLB itu ada satu di setiap kecamatan.
Namun, di Blora untuk mewujudkannya perlu koordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.
"Kami akan koordinasikan terus dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, terkait dengan penambahan SLB agar hak pendidikan anak berkebutuhan khusus di Blora terpenuhi. Kami pinginnya di Kecamatan Todanan dan Kunduran juga ada," jelasnya. (ari/him)
Editor : Abdul Rokhim