BLORA - Sosok Listiono Sigit Irawan (28) warga asal Desa Jatiklampok, Kecamatan Banjarejo, yang hidup dengan satu kaki.
Ia tetap semangat menjalani hidup meski ditinggal dengan istri dan anaknya.
Saat dalam keterpurukan, ia menjalani hidup dengan menjadi pengrajin kaki palsu satu-satunya di Kabupaten Blora.
Pria yang kehilangan kakinya karena kecelakaan motor itu juga mempunyai usaha potong rambut.
Kedua usahanya dinaungi organisasi Difabel Blora Mustika.
Walau sempat terpuruk dan terbaring 2 tahun lamanya, tak membuat Sigit berhenti sampai situ saja.
Sigit menjelaskan, bahwa saat itu dirinya sedang merantau di Jakarta.
Saat bekerja menjadi sopir di sebuah perusahaan, ia mengalami kecelakaan sampai kehilangan kakinya.
Ditambah, ia juga tak bisa berdiri walaupun telah diamputasi.
Ternyata bagian punggungnya mengalami patah tulang.
Hingga akhirnya hanya bisa berbaring selama 2 tahun lebih.
‘’2019 itu saya kecelakaan di Jakarta. Lalu saya coba pijet di sangkal putung. Kok malah bengkak, akhirnya saya dibawa ke Solo dan dinyatakan harus amputasi. Dari situ saya ngedrop,’’ ujarnya.
Baca Juga: Kenali 11 Khasiat Buah Matoa Untuk Kesehatan, Benarkah Bisa Mencegah HIV?
'’Dari situ istri saya meninggalkan saya dan membawa anak saya. Harta saya cuman motor, dibawa juga. Jadi ini saya l kalau kerja ke kota harus nebeng teman. Itupun kalau sudah di kota saya harus nginep di bengkel biar tidak menyusahkan kawan,’’ tuturnya.
Nasib pahit memang sedang menghampiri Sigit saat itu.
Ia akui sempat terpikir untuk menunggu ajal menjemputnya.
Hingga akhirnya dirinya mendapatkan motivasi dari sosok sesama difabel yang sedang menjenguknya.
‘’Saya ingat 2021 itu saya dikunjungi sama Mas Soni. Dia tetangga saya. Sama-sama difabel. Saya dikompori untuk bangkit. Akhirnya saya dibawa ke organisasi difabel,’’ tuturnya.
Setelah dibawa ke organisasi ini, ia mulai membiasakan diri untuk bersosialisasi dan belajar lagi setelah terkurung 2 tahun dalam kamar.
Tepatnya, 2023 lalu yang belajar dan dipercaya untuk menjadi pengrajin kaki palsu.
‘’Itu setahun saya latihan berdiri, jalan, dan bersosialisasi. Didatangkan kawan difabel yang sukses dari luar kota untuk memberinya pengalaman. Seminggu lebih saya sudah bisa mendalami cara pembuatannya dan sudah bisa buka bengkel pengrajin kaki palsu," ucapnya.
Dalam prosesnya, ia sudah membuat puluhan kaki palsu.
Namun, rata-rata orderan hanya sebulan sekali mendapati pesanan kaki palsu.
‘’Sebulan paling tidak sekali. Karena memang butuh agak lama penyelesaiannya. Seminggu hingga dua minggu lah,’’ ucapnya.
Dalam produksi dan penjualannya ia dibantu bersama teman-temannya yang juga penyandang difabel.
Mereka juga memiliki jejaring antar kota untuk menerima pesanan-pesanan itu.
‘’Kalau ini pembuatannya juga dibantu sama Baznas setempat. Jadi hasilnya juga sharing. Satu kaki palsu harganya Rp 5 juta-an,’’ ucapnya. (ari)
Editor : Dzikrina Abdillah