BLORA - Hidup dengan ekonomi stabil dan mengenyam pendidikan di Korea Selatan telah dirasakan Adi Latif Mashudi.
Seorang pemuda 27 tahun asal Desa Ngiyono, Kecamatan Japah, Kabupaten Blora.
Ia pulang ke tanah kelahirannya demi mengembangkan pertanian dan perekonomian di desa nya setelah 5 tahun lebih menjadi TKI sekaligus Mahasiswa di Negeri Ginseng.
Awalnya, Adi merupakan lulusan SMK Pelita Harapan, Japah yang letaknya cukup dekat dengan rumahnya.
Selama di pendidikan kejurusan, ia mencoba daftar LPK bahasa korea.
Hal itu diungkapkan Adi saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus, di Agrowisata Petik Buah Girli Smart Ecosystem Farming miliknya, Kamis (25/4).
"Saat itu ada program pendidikan bahasa Korea gratis dan awalnya saya tidak ada niatan untuk ke Korea. Hanya mengisi waktu senggang karena masih ada waktu untuk belajar mengikuti kursus tersebut," tuturnya.
Setelah hampir sebulan kursus, ia mencoba merancang hidupnya.
Setelah lulus dari SMK, ia tertarik untuk melanjutkan kuliah. Namun, dengan keterbatasan faktor ekonomi keluarga.
Tak putus asa, Adi mencoba untuk mendaftar program beasiswa dan diterima.
‘’Sayangnya orang tua tidak mengizinkan. Soalnya takut ada biaya lainnya,’’ jelasnya.
Setelah mengubur impiannya untuk mendapatkan gelar sarjana, dirinya mencoba peruntungan menjadi TKI di Korea Selatan.
Pada 2015 lalu, ia melanjutkan kursus bahasa korea.
Setelah setahun kursus, ia dinyatakan lulus.
Meskipun lulus dari kursus, nasib tak baik masih mengikutinya yaitu penundaan pemberangkatan kerja.
‘’Selama menjalani kursus bahasa Korea itu, saya dipercaya lembaga kursus tersebut untuk mengelola asrama, koperasi, jadi tukang panen ayam, hingga diangkat jadi staf kantor. Selama penundaan keberangkatan kerja, saya masih bisa mendapat penghasilan dari kerjaan itu,’’ ucapnya.
Hingga saat itu, dirinya mendapatkan rezeki yang tak terduga yaitu pemberangkatan kerja ke korea tanpa dipungut biaya sepeser pun.
‘’Itu dulu harusnya bayar Rp 35 juta sampai Rp 40 juta untuk bisa pergi ke Korea. Saya sudah nabung itu, ternyata digratiskan. Alhamdulillah, akhirnya berangkat ke korea,’’ jelasnya.
Sesampainya disana ia melamar kerja di lima perusahaan. Sayangnya kelima perusahaan tersebut tak ada yang menerimanya.
Lalu, ia mencoba lagi untuk mendaftar di salah satu pabrik material pembuat suku cadang alat elektronik LG di Korea.
"Kerja pertama saya itu di pabrik material pembuatan suku cadang itu. Waktu kerja di pabrik itu gajinya Rp 30 juta. Hidup disana sebenarnya sudah cukup. Kuliah juga sudah beres. Sampai-sampai bisa keturutan naik haji 2023 kemarin, sebelum umur 30 tahun," ucapnya.
Ia juga aktif di organisasi masyarakat islam setempat. Tak hanya itu, saat kuliah ia juga aktif menjabat di BEM dan lain sebagainya.
"Waktu di korea juga aktif nguripi masjid. Saya disana dipercaya untuk jadi ta’mir masjid," ucapnya.
Setelah lima tahun lebih berkutat di korea, lulusan sarjana Manajemen di Universitas Terbuka yang bekerja sama dengan Yeungnam University itu mengaku tertarik merintis pertanian di desa.
Pasalnya, ia percaya kebangkitan ekonomi Indonesia berawal dari bawah atau desa.
"Jujur waktu itu takut untuk balik kampung. Takut gak bisa kerja lagi ataupun penghasilan minim. Namun, saat pergi haji waktu itu tiba-tiba saya kepikiran dan terarahkan untuk pulang ke Blora dan mengembangkan pertanian serta perekonomian di desa saya. Akhirnya Juli 2023 lalu saya dirikan agrowisata ini,’"
Ia mengaku, saat mendirikan agrowisata tersebut, dirinya merogoh kocek hingga Rp 700 juta lebih. Uang tersebut sama sekali bukan pinjaman. Melainkan hasil jerih payahnya saat kerja di Korea.
"Saya sudah nabung modal sejak dulu di Korea. Akhirnya saya dirikan ini dan sempat merasa terjebak. Biaya untuk bangun greenhouse saja Rp 700 juta dengan luas tanah sekitar 2 hektare. Untuk pembangunan lain-lain saya lupa harga-harganya dan kalau di total satu bangunan bisa mencapai Rp 900 juta," terangnya.
Kini ia berhasil mendirikan dua greenhouse. Memberanikan diri untuk mengembangkan agrowisatanya yang bernama 'Agro Wisata Girli Farm' yang ditanami buah melon hidroponik.
Ia mengaku tak mempunyai skill di bidang pertanian atau perkebunan.
Semua ilmu hidroponik pun ia pelajari secara otididak sambil berkonsultasi dengan dua rekan mantan kerjanya di Korea yang berkarier sebagai petani.
Ia akui, keputusannya menjadi seorang petani hidroponik itu semakin membuat dirinya maju.
Saat ditanya mengapa harus melon, ia mengaku perawatannya terbilang tidak terlalu rumit dan bisa dipanen setiap dua bulan.
‘’Saat ini, sudah ada tiga jenis melon yang dikembangkan. Pertama jenis New Kinanti, lalu Camoe dari Korea, lalu ada Kirani, dan Intanun dari Turki yang paling diminati,’’ jelasnya.
Ia menyebut, setidaknya selama masa tanam, kebunnya mampu menampung 2.400 pohon melon dari seluruh greenhouse miliknya.
‘’Jadi masa tanamnya itu sebulan sekali. Dan panennya satu bulan hingga dua bulan sekali,’’ terangnya.
Selain melon, Adi juga mengembangkan tanaman buah-buahan lain, seperti alpukat, durian, stroberi, serta budidaya ikan lele dan nila.
‘’Sementara memang yang difokuskan melon dulu. Karena perawatannya susah-susah mudah,’’ jelasnya.
Walaupun belum dilirik dinas setempat, omzet pertaniannya tersebut sudah mencapai Rp 20 juta hingga Rp 35 juta dalam sekali panen.
Ia juga mengatakan, bakal menarget dipasarkan di supermarket.
‘’Memang belum ada obrolan sama dinas. Hanya dengan pak Bupati sudah ketemu. Alhamdulillah peminatnya sudah banyak dari semua kalangan. Ini juga karena relasi saya saat jadi TKI dan saya gunakan untuk pemasaran,’’ tuturnya.
Ia berharap, dengan caranya ini bisa menjadi pemantik pertanian di desa nya.
Terlebih letak desa nya jauh dari pusat kota dan akses jalan masih sangat terbatas.
‘’Harapannya bisa menggenjot perekonomian sekitar. Bisa memberdayakan SDM disini. Sementara masih ada beberapa warga saya ajak kerja di Girli farm. Kedepannya bisa lebih besar dan nantinya pemuda dan masyarakat disini bisa merasakan dampak postifinya dari agrowisata ini,’’ tegasnya. (Ari)
Editor : Dzikrina Abdillah