BLORA – Dua bencana longsor akibat gerusan dari air Sungai Bengawan Solo terjadi di Cepu, Blora. Bencana longsor ini terjadi dalam sehari (12/3).
Lokasi longsor terjadi di Desa Panolan, Kedungtuban, Selasa (12/3) sore dan di Desa Gadon, Cepu, pada malam harinya atau pada pukul 23.00 WIB.
Longsor di Desa Gadong mengakibatkan jalan kabupaten di lokasi itu ditutup.
Sementara di Desa Panolan jalan desa mengalami hal sama.
Bupati Blora Arief Rohman turun langsung meninjau lokasi bencana tanah longsor di Desa Gadon, Cepu, dan Desa Panolan, Kedungtuban.
Dalam kunjungannya, Arief Rohman langsung berkomunikasi dengan Kepala Balai Bengawan Solo untuk segera diperbaiki.
Diketahui, akses jalan Ngloram-Gadon yang merupakan jalan kabupaten untuk sementara ditutup sampai ada perbaikan dari balai wilayah sungai Bengawan Solo.
Bupati Blora Arief Rohman mengatakan, kondisi longsor itu cukup parah. Karena jalan kabupaten antara Ngloram-Gadon terputus.
Pihaknya juga telah berkomunikasi dengan kepala balai wilayah Sungai Bengawan Solo untuk segera dibantu perbaikan.
"Jalannya ini harus ditutup untuk keselamatan dan tidak mengakibatkan longsor susulan. Tadi, kami sudah telepon dengan kepala balai untuk meminta bantuan perbaikan,” ujarnya.
“Karena tahun lalu, jalan ini sudah dilakukan pemasangan bronjong kawat, namun tetap terjadi longsor," ujarnya.
Dia menambahkan, akses jalan ini kalau tidak segera diperbaiki dengan dilakukan pemasangan paku akan tergerus lagi oleh derasnya aliran sungai ketika meluap.
Pemasangan bronjong kawat ini juga pernah dilakukan pada 2021 sebagai langkah pencegahan, namun masih kalah dengan derasnya arus sungai.
"Kami minta bantuannya kepada Kementerian PUPR untuk dibantu penanganan longsoran di Desa Gadon ini. Kepada kepala balai BBWS Bengawan Solo juga sudah kami todong untuk segera ada penanganan," ucapnya.
Sementara itu Pejabat Pembuat Komitmen Operasi dan Pemeliharaan (PPK OP) IV BBWS Bengawan Solo Yosi mengatakan, untuk penanganan darurat itu pihaknya sudah berkoordinasi dengan BPBD dan Bidang SDA PUPR Blora.
Kemungkinan nanti akan dipasang cerucuk terlebih dahulu agar tidak ada longsor susulan dan menjaga kestabilan tanah.
Ketika disinggung soal anggaran perbaikan, Kepala Dinas PUPR Samgautama Karnajaya mengatakan, anggaran perbaikannya akibat longsoran itu tidak ada anggaran.
Namun, pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pihak BBWS Bengawan Solo untuk langkah kedepannya dalam penanganan bencana ini.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Blora Samgautama Karnajaya mengatakan kedua longsoran tersebut memiliki diameter berbeda-beda.
Berdasarkan laporan dari pusat pengendalian operasi penanggulangan (Pusdalops) BPBD dan Bidang Bina Marga PUPR Blora, longsor di Desa Panolan itu sepanjang 30 meter dengan lebar 7 meter dan tinggi sekitar 8 meter.
Longsoran tersebut mengakibatkan putusnya jalan desa. Mengancam empat rumah warga terancam ikut terkena longsor susulan.
Sedangkan longsoran di Desa Gadon lebih besar daripada longsoran di Desa Panolan.
Longsor sepanjang 70 meter dengan lebar 10 meter dan tinggi 9 meter itu memutus akses jalan kabupaten di Jalan Ngloram-Gadon.
Longsoran itu mengakibatkan satu rumah milik Sukiran harus waspada.
”Sebab, rumahnya yang hanya berjarak dua meter dari bibir longsor," jelasnya.
Dia menambahkan, sampai saat ini pihaknya terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo untuk mengatasi longsoran itu.
Juga telah berkoordinasi dengan BPBD Blora, Polsek, dan Kodim untuk mengawasi adanya pergerakan tanah atau longsor susulan.
"Untuk saat ini, akses jalan di kedua longsoran kami paksa untuk ditutup. Sebab, ketika dilewati terus menerus akan menyebabkan tanah bergetar dan diameter longsoran akan meluas," ujarnya. (ari)
Editor : Ali Mustofa