BLORA - Seekor burung Kasuari yang ada di Taman Tirtonadi akan segera diambil Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng.
Spesies burung yang dilindungi dan terancam punah itu tidak mendapatkan perhatian yang baik dari makanan, kandang dan perawatan fisik hewan.
Ditambah lagi hewan itu bukan merupakan aset pemkab, melainkan kepunyaan Bupati Blora terdahulu Djoko Nugroho.
Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kepemudaan, Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora Yetti Romdonah mengatakan, dalam waktu dekat ini hewan yang ada di Taman Tirtonadi akan segera diambil oleh balai kelestarian hewan Jawa Tengah.
Hewan yang akan diambil itu nanti burung kasuari dan rusa.
"Kedua hewan itu adalah spesies hewan yang dilindungi. Beberapa waktu lalu ada tim dari BKSDA Jateng yang meninjau kondisi kandang hewan yang ada di Tirtonadi dan menyarankan untuk diambil," ujarnya.
Dia menambahkan, setelah ada peninjauan dari tim BKSDA Jateng.
Pihaknya telah mengirimkan surat pemberitahuan ke Bupati Blora Arief Rohman bahwa burung kasuari dan rusa akan diambil dan dibawa ke penangkaran.
Sebab, kondisi kandang dan fisik hewan dianggap sudah memprihatinkan.
"Karena kedua hewan itu bukan aset pemkab tapi milik Bupati Blora Djoko Nugroho yang dikasih orang. Kemudian, di Tirtonadi diberikan tempat dan secara kepemilikan bukan aset Dinporabudpar," jelasnya.
Dia menambahkan, saat disarankan oleh tim BKSDA Jateng untuk dipindah itu pihaknya tidak bisa mengiyakan, sebab milik pribadi.
Terkecuali dari bupati terdahulu (Djoko Nugroho) menyerahkan secara pribadi ke Pemkab Blora.
"Dikarenakan hewan itu spesies hampir punah ya harus ada SOP dan perizinan yang lengkap. Diantaranya harus ada tim perawatan, bentuk kandang, dokter hewan khusus dan petugas hewan langka khusus burung kasuari," jelasnya.
Yetti mengungkapkan, untuk usaha Pemkab Blora dalam mengambil alih burung kasuari menjadi aset pemkab itu cukup susah.
Karena hewan itu termasuk langka dan dilindungi. Pihaknya masih belum memikirkan sampai sana (Red; ambil alih aset).
"Selama hewan kasuari dan rusa itu di Taman Tirtonadi saja dalam memberi makan saja tidak ada anggaran. Karena bukan aset daerah yang ada anggaran untuk merawat. Selama ini, anggaran untuk memberi makan hewan itu saja kami sisipkan sedikit anggaran untuk hewan bisa hidup," tuturnya.
Ketika nanti hewan kasuari dan rusa itu sudah tidak ada, pihaknya ingin masyarakat tidak berpikiran buruk kepada Dinporabudpar.
Sebab, bukan kewenangan pemkab untuk menjaga dan merawat hewan yang spesiesnya hampir punah.
"Kami belum menginformasikan ini kepada masyarakat, namun sudah mengirimkan nota dinas yang disarankan oleh BKSDA Jateng. Takutnya masyarakat menganggap hewan itu mati dan disita oleh dinas. Jadi, biar hewan itu dapat perawatan dan tempat yang layak dari BKSDA Jateng,"jelasnya. (ari)
Editor : Ali Mustofa