Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Setelah Berhasil di Kecamatan Kedungtuban, Bupati Blora Gelorakan Pertanian Organik ke Wilayah Lain

Eko Santoso • Senin, 6 November 2023 | 16:46 WIB
SENANG: Bupati Blora Arief Rohman saat panen padi organik di Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban
SENANG: Bupati Blora Arief Rohman saat panen padi organik di Desa Ngraho, Kecamatan Kedungtuban

 

BLORA – Ini cara Bupati Blora Arief Rohman memberi semangat kepada para petani di wilayah Kecamatan Banjarejo yang dibidik dan akan didorong untuk mengembangkan pertanian organik.

Di sela-sela sosialisasi dan bimtek pengembangan pertanian organik pilot project di Kecamatan Banjarejo yang di gelar di pendapa Rumah Dinas Bupati, Rabu (1/11).

Baca Juga: Pemkab Blora Launching Gerakan Pembuatan Pupuk Organik dari Kotoran Sapi di 30 Lokasi, Ini Tujuannya

Bupati yang akrab dipanggil Mas Arief itu cerita tentang keberhasilan pertanian organik di wilayah Kecamatan Kedungtuban.

Diceritakan, beberapa waktu lalu dirinya hadir di acara panen padi organik di wilayah Kedungtuban.

Dimana pengembangan pertanian organik itu telah dilakukan pendampingan dari Pertamina dan Dinas P4 Kabupaten Blora.

Dan ternyata hasil panen pertanian organik tersebut memuaskan.

“Saya kemarin panen padi organik yang sudah berhasil di wilayah Kedungtuban, diantaranya di Desa Bajo, Ngraho, Sidorejo. Rata-rata harga beras organik dari panenan itu bisa Rp 17.000/Kg,’’ jelasnya.

Dalam panen di Kedungtuban itu, ternyata menghasilkan 8,4 Ton/Ha gabah kering panen dan setelah diproses menjadi beras sekitar 4,1 Ton lebih.

UNJUK GIGI: Supardi (kanan) saat menunjukkan pestisida dan pupuk organik buatannya.
UNJUK GIGI: Supardi (kanan) saat menunjukkan pestisida dan pupuk organik buatannya.

Jika dihitung, dengan harga Rp 17.000/Kg, maka per Hektarnya bisa menghasilkan sekitar Rp 70 juta lebih.

“Ini cerita contoh pertanian organik yang berhasil. Silahkan mungkin teman-teman dari Banjarejo nanti bisa studi banding ke Kedungtuban,” imbuhnya.

Disampaikan, banyaknya jumlah ternak sapi di Kabupaten Blora menjadi salah satu peluang emas untuk pengembangan pertanian organik.

Disi lain pertanian organik bisa menjadi solusi bagi para petani untuk tetap produktif, di tengah keterbatasan alokasi pupuk bersubsidi dari pemerintah pusat.

Menurut Bupati, setelah disurvei, beberapa persoalan yang disampaikan masyarakat Blora, urutan pertama adalah soal pupuk, kedua infrastruktur jalan, dan ketiga air.

Persoalan pupuk jadi hal yang mendominasi dari apa yang dikeluhkan, karena memang sebagian besar masyarakat bekerja di bidang pertanian.

‘’Solusinya, pertama petani membeli pupuk non subsidi, kedua bagaimana kita punya potensi bahan baku pupuk organik yang melimpah harus dimanfaatkan. Bagaimana persoalan pupuk ketika petani butuh ini bisa dicukupi, kita buat terobosan agar tidak tergantung pupuk ber subsidi. Pertanian memanfaatkan pupuk organik dari kotoran sapi, di Blora ini sudah menerapkan tapi belum masif,” Jelasnya. (tos)

Editor : Ali Mustofa
#pertanian organik #petani #ternak sapi #blora #pupuk