Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rumah Bak Museum, Warga Ngawen Blora Ini Miliki Ribuan Barang Antik dari Zaman Kolonial, Anda Berminat?

Eko Santoso • Jumat, 20 Oktober 2023 | 20:04 WIB


TUNJUKKAN: Chuplis pemuda asal Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen menunjukkan salah satu barang antik koleksinya.
TUNJUKKAN: Chuplis pemuda asal Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen menunjukkan salah satu barang antik koleksinya.

BLORA
– Berbeda dengan rumah pada umumnya, rumah Chuplis pemuda asal Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen ini lengkap dengan koleksi barang antiknya. 

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus barang-barang antik berjajar memenuhi tiap sudut ruangan rumah.

Selain diletakkan di atas meja, juga bederet di setiap almari yang ada. Nyaris memenuhi isi rumah.

Mulai dari barang-barang dari kayu seperti lesung, hingga yang terbuat dari kuningan. Hingga barang-barang tinggalan masa kolonial.

Seperti bifet, sketsel, hingga perabotan rumah tangga lain.

Diketahui, ia mengoleksi barang-barang antik yang telah berusia puluhan tahun.

Bahkan, koleksinya telah mencapai ribuan.

 

Kebiasaannya itu memang unik seunik namanya.

Dulu, ia memulai hobinya itu lantaran bertujuan untuk dijadikan pajangan di kamar. Agar terlihat klasik. Namun kemudian terus berlanjut.

"Saat lulus sekolah itu, langsung kerja. Dan kemudian saya berlanjut dengan senang beli motor klasik. Seperti vespa dan suzuki FR," katanya.

Bahkan sampai sekarang pun ia tak pernah membeli kendaraan bermotor baru dari dealer.

Hobinya itu didukung dengan kebiasaannya yang suka touring.

Dari saling silaturahmi ke teman-temannya itu ia menemukan ada koleksi-koleksi dan pajangan barak unik dan lawas milik temannya itu.

"Akhirnya saya mulai terpancing beli dan mencari untuk saya display di rumah," tuturnya.

Awalnya ia memang niat hanya mengoleksi. Tetapi empat tahun belakangan, ia mulai berpikir ulang. Lantaran banyak teman yang menawar. Sehingga berpikir juga soal profit.

"Ya akhirnya beberapa teman-teman minat saya jual. Ternyata lumayan. Lagian saya sudah banyak juga relasi dan jaringan di luar. Jadi kalau mau cari lagi gampang," imbuhnya.

Sejauh ini barang-barang antik yang dimiliki dan dijual berasal dari beragam jenis.

Jenis barang askuningan ada bokor dan setrika. Kemudian dari elektronik ada TV dan radio jaman dulu.

Barang-barang tinggalan kolonial. Hingga mainan jadul. Serta lukisan dan jam dinding jaman kolonial pula ada.

"Full yang ada di galeri perkiraan dua ribu barang. Campuran dari berbagai macam jenis," katanya.

Menurutnya ia bisa mendapatkan barang-barang itu dengan beragam cara. Mulai dari hunting ke rumah-rumah tua, beli secara online, hingga kerja sama dengan sesama kolektor.

"Sejauh ini dapat harga terendah Rp 100 ribu. Kalau tertinggi Rp 11 juta," tambahnya.

Ia menyebut hobinya itu mengasyikkan. Lantaran juga bernilai profit sembari bisa touring sana sini. Tetapi belakangan barang-barang yang dicari sudah mulai langka.

"Sejauh ini yang paling istimewa radio mas. Karena radio menurut saya adalah alat komunikasi sejak sebelum merdeka. Sebelum ditemukan telepon dan saluran lainnya, radio adalah barang berharga. Dan bahkan sampai sekarang masih eksis," paparnya. (tos/zen)

Editor : Abdul Rokhim
#chuplis #ngawen #barang antik #blora #kolektor #barang zaman kolonial