Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bunuh Diri Vs Kemiskinan

Ali Mustofa • Jumat, 29 September 2023 | 16:24 WIB
A. Mahbub Djunaidi, Kepala Bappeda Kabupaten Blora
A. Mahbub Djunaidi, Kepala Bappeda Kabupaten Blora

PEMBACA sering mendengar Da’i menyampaikan pesan Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Na’im “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran.”

Kemiskinan dipandang dari sisi material berarti kurang atau miskin dari harta benda duniawi. Dari sisi spiritual diartikan kurangnya iman atau jiwa.

Melihat fakta- sosial kedua sisi bisa kufur atau ingkar dari apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah SWT, sehingga sampai bunuh diri. Tentu lebih berbahaya lagi ketika seseorang mengalami kemiskinan material sekaligus kemiskinan spiritual. Na’udzubillah min dzalik.

Kasus bunuh diri bukan saja terjadi pada masyarakat modern seperti sekarang saja, tetapi tahun 399 SM Socrates bunuh  diri  dilakukannya  secara  sadar. Dia pilih mati dengan cara minum racun daripada mencabut ajaran kebenaran. 

Dalam pewayangan, Kumbokarno bunuh diri dengan cara nekat berperang. Bangsa Jepang, ada harakiri (bunuh diri dengan  menusukkan  pisau ke perut dan mengeluarkan seluruh isinya, sebagai   bentuk  kesatriaan  dalam  penebusan  dosa). Tapi kini sering kita jumpai kasus bunuh diri karena keterpurukan ekonomi.

Bunuh diri berarti kematian yang disebabkan oleh diri sendiri dengan tujuan untuk mati. Bunuh diri (bundir) sebagai tindakan sengaja yang menyebabkan kematian untuk dirnya.

Bunuh diri sering kali dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya sering kali dikaitkan dengan gangguan jiwa. Faktor penyebab bundir bisa kesulitan keuangan atau masalah dalam hubungan intrapersonal.

Kemiskinan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka bunuh diri pada manusia. Setiap tahun 703.000 orang bunuh diri dan lebih banyak lagi orang yang mencoba bunuh diri.

Bunuh diri terjadi sepanjang masa hidup dan merupakan penyebab kematian keempat terbesar pada kelompok usia 15-29 tahun secara global pada tahun 2019.

Sementara itu di Kabupaten Blora angka bunuh diri tahun 2022 terdapat 26 kasus bunuh diri, meningkat dibanding 2021 ditemukan 18 kasus, didominasi sakit menahun tidak kunjung sembuh (Jawa Pos, Rabu, 4 Januari 2023).

Bila dibandingkan dengan angka kemiskinan pada tahun 2021 sebesar 12,39 atau 107,05 ribu penduduk miskin, maka terdapat 18 kasus bunuh diri. Artinya, setiap 5.947 orang miskin ada 1 orang bunuh diri. Sedangkan pada Tahun 2022, penduduk miskin di Blora ada 99, 83 ribu orang, yang bunuh diri 26 orang.

Artinya, setiap 3.824 orang miskin ada 1 orang yang bunuh diri. Bunuh diri tidak hanya terjadi di negara-negara berpendapatan tinggi namun merupakan fenomena global di seluruh wilayah dunia.

Faktanya, lebih dari 77% kasus bunuh diri global terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2019. Bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Namun, bunuh diri dapat dicegah dengan intervensi yang tepat waktu, berdasarkan bukti, dan seringkali berbiaya rendah.

Agar respons menjadi efektif, diperlukan strategi pencegahan bunuh diri multisektoral yang komprehensif, maka dalam waktu 1 hari tidak terulang lagi terdapat dua kasus bunuh diri di Kecamatan Tunjungan dan Kecamatan Randublatung (Jawa Pos, Rabu, 13 September 2023), yang membuat sejumlah anggota DPRD Kabupaten Blora turut menyoroti maraknya kasus bunuh di Blora (Jawa Pos, Senin, 25 September 2023).

Apabila faktor penyebab bunuh diri berkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat, maka perlu dilakukan upaya-upaya peningkatan taraf kehidupan yang layak agar masyarakat tak depresi dan berujung pada gantung diri.

Standar hidup layak mencakup pemenuhan kebutuhan dasar kita, di antaranya makanan dan air bersih, dan tempat tinggal yang layak.

Standar hidup layak juga mencakup kesempatan untuk sekolah, kondisi pekerjaan yang adil dan mendukung, layanan kesehatan, hingga jaminan sosial saat menganggur, sakit, pensiun, atau situasi rentan lainnya.

 Sementara itu, dimensi standar hidup layak direpresentasikan oleh pengeluaran riil per kapita (atas harga konstan 2012) yang disesuaikan.

Sejak tahun 2010, pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan masyarakat Kabupaten Blora selalu meningkat setiap tahun hingga pada tahun 2020 nilainya menurun. Adanya pandemi COVID-19 membuat pengeluaran riil per kapita masyarakat di tahun 2020 menurun.

Namun seiring dengan pemulihan ekonomi, pengeluaran riil per kapita kembali mengalami peningkatan hingga 2022 yang saat ini sebesar Rp10,07 juta per tahun.

Capaian ini meningkat 4,12 persen dibanding tahun sebelumnya, menunjukkan adanya peningkatan kesejahteraan yang dinikmati penduduk sebagai dampak membaiknya perekonomian.

Faktor penyebab bunuh diri antara lain depresi yang tidak tertangani, perilaku impulsive (dorongan hati). Perilaku ini membuat Anda melakukan segala sesuatunya secara spontan, masalah dalam kehidupan sosial, alkohol dan obat-obatan, gangguan mental lainnya, trauma, mengidap penyakit yang tak kunjung sembuh, orientasi seksual yang berbeda.

Upaya pencegahan bunuh diri memerlukan koordinasi dan kolaborasi antar berbagai sektor masyarakat, termasuk sektor kesehatan dan sektor lain seperti pendidikan, tenaga kerja, pertanian, bisnis, peradilan, hukum, pertahanan, politik, dan media.

Upaya-upaya ini harus komprehensif dan terintegrasi karena tidak ada pendekatan tunggal yang dapat memberikan dampak pada permasalahan yang rumit seperti bunuh diri.

Dalam Islam, telah banyak diriwayatkan hadits bahwa Rasulullah SAW mendoakan orang yang memusuhinya, menghormati jenazah orang Yahudi, bahkan hendak menshalatkan jenazah orang munafik sebelum Al-Qur’an turun menjelaskan larangannya.

Tetapi Rasulullah dengan tegas menolak menshalatkan pelaku bunuh diri. Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Jabir bin Samurah, “Pernah didatangkan kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam jenazah seorang laki-laki yang bunuh diri dengan anak panah. Tetapi jenazah tersebut tidak dishalatkan oleh beliu.” (HR Imam Muslim).

Semoga tulisan ini sekaligus sebagai ikhtiyar sosialisasi bahaya bunuh diri, dan harus dihindari.

Editor : Ali Mustofa
#mahbub djunaidi #blora #kemiskinan #bunuh diri