Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Begini Wujud Jati Denok di Blora, Salah Satu Jati Tertua di Indonesia yang Pernah Ditawar Rp 2,5 Miliar

Ali Mustofa • Jumat, 28 April 2023 | 02:29 WIB
Jati Denok, salah satu jati tertua di Indonesia yang berada di KPH Randublatung, Blora. (AHMAD ZAIMUL CHANIEF/JAWA POS RADAR KUDUS)
Jati Denok, salah satu jati tertua di Indonesia yang berada di KPH Randublatung, Blora. (AHMAD ZAIMUL CHANIEF/JAWA POS RADAR KUDUS)
BLORA – Jati Denok di Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Randublatung menjadi salah satu jati tertua di Indonesia. Saat ini, kondisi daun sudah mulai rontok. Namun tampak masih terawat. Sebelumnya, pohon jati raksasa itu pernah ditawar hingga Rp 2,5 miliar.

Lokasi objek yang sudah menjadi situs budaya itu berada di petak 62 B RPH Temetes dan BKPH Temanjang. Butuh waktu sekitar 45 menit dari pusat kota untuk mencapai situs tersebut, dengan jarak tempuh sekitar 16 kilometer ke arah selatan melalui Jalan Blora-Randublatung, lalu memasuki kawasan hutan dengan jalan bebatuan berjarak sekitar 4 kilometer.

Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Temanjang Darmaji mengungkapkan, jati tua itu berjenis jati lokal. Secara penampang, terdapat semacam cekungan di salah satu sisinya, tidak bulat. Sedangkan secara pertumbuhan ke atas, jati itu tidak lurus ke atas. Melainkan terdapat beberapa cabang ataupun lekukan. Setidaknya butuh tujuh rentangan tangan manusia dewasa untuk bisa mengelilingi keliling penampang pohon.

Dari pantauan wartawan di lokasi, Jati Denok dikelilingi pembatas beton. Di dalamnya terdapat empat pohon lain yang dimungkinkan merupakan keturunan dari Jati Denok. Berbeda dengan pohon jati lainnya yang tak diberi pembatas apapun antara satu pohon dengan lainnya. Selain itu, juga terdapat semacam pendopo yang tak begitu luas di sekitar Jati Denok.

Seperti diketahui, ranting yang dimakan usia akan semakin mengering lalu akan patah dan jatuh di tempat yang tak jauh dari sang induk. Kondisi itu dikhawatirkan akan berbahaya bagi Jati Denok, sehingga ketika diketahui banyak ranting kering jatuh di sekitar pohon, pihaknya akan membersihkannya.

”Jenisnya jati lokal Blora, alami. Tidak seperti Jati plus atau stek pucuk yang dikembangkan Perhutani. Kalau perawatannya ya dijaga, jangan sampai kebakaran. Kalau ada ranting-ranting patah ya dijauhkan. Karena kalau dibiarkan akan mengering dan dikhawatirkan bisa membakar Jati Denok,” terangnya.

Darmaji juga mengungkapkan, beberapa tahun lalu ditemukan tiga buah nampan perunggu yang diperkirakan berasal dari abad 9-10 masehi. Namun pihaknya tidak bisa memastikan bagaimana kondisi nampan tersebut saat ini. Sebab hanya disimpan perseorangan saja. Bukan dinas ataupun lembaga yang bertugas menyimpannya.

”Di sekitar hutan ini juga ada semacam jalan makadam yang mungkin usianya juga tua, Demping, tengah ada tatanan batu. Udah lama banget, dimungkinkan jalan utama orang dulu. Di bekas kuburan, masih banyak yang nemu emas. Mungkin itu sebagai tanda kalau ada penghuni di jaman dulu di sini,” terangnya. (cha/ali) Editor : Ali Mustofa
#jati tertua di indonesia #blora #jati denok #jati lokal blora #KPH Randublatung