Tiga ruko yang terletak di RT 02/01 itu tinggal dinding tembok yang masih utuh.
Parmi, 51, penyewa ruko itu mengaku kejadian bermula saat slaah satu pekerjanya, Sulastri, sedang menyalakan kompor untuk menghangatkan sayur sekitar pukul 16.00. Dia diberitahu untuk menjaga kompor dan mematikannya saat sudah mendidih.
Parmi kemudian meminta Lasno, suaminya, untuk menjemput cucunya karena dia sedang menunggu sayur ynag masih dihangatkan. Namun, sekitar pukul 16.30, dia menutup dan mengunci kios tanpa mematikan kompornya.
"Saya sebenarnya merasa ada yang beda, resah, biasanya langsung meminta suami untuk mengecek kembali. Tapi tadi tidak begitu, karena suami jemput cucu pulang sekolah," ucapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.
Kemudian, Mindarwanto, saksi mata kejadian, mengaku melihat api saat dia sedang membeli sesuatu dari warung yang berada tepat di seberang kios. Dia langsung beranjak dari warung untuk mencoba membuka pintu yang masih terkunci itu.
"Saya tahunya sekitar setelah maghrib. Saya langsung cari bantuan untuk membuka gemboknya. Setelah itu mendengar ledakan dari dalam," jelasnya.
Namun, karena dia ada trauma dengan ledakan gas, dia langsung mundur.
Mendengar adanya kebakaran di wilayahnya dari istrinya, Kepala Desa Bogowanti Suyitno langsung menelpon Wito (Anggota Damkar Ngawen) dan langsung mampir ke kecamatan untuk meminta bantuan damkar. Sekitar pukul 19.00 itu dia bersama damkar langsung ke lokasi.
Atas kebakaran ini, kerugian yang dialami pemerintah desa dan penyewa kios ditaksir sekitar Rp 25 juta. (cha/lid) Editor : Abdul Rokhim