GROBOGAN – Kehadiran Kawasan Peruntukan Industri (KPI) di Desa Sugihmanik, Kecamatan Tanggungharjo, mulai menjadi mesin penggerak baru bagi perekonomian desa.
Sejak mulai berkembang pada 2025, kawasan tersebut membawa perubahan signifikan terhadap pola mata pencaharian masyarakat.
Jika sebelumnya sebagian besar warga hanya mengandalkan sektor pertanian, kini banyak masyarakat yang mulai merambah sektor industri, baik sebagai pekerja pabrik maupun pelaku usaha.
Sekretaris Desa Sugihmanik, Herdy Hermawan, mengatakan keberadaan kawasan industri memberikan dampak positif yang cukup besar bagi masyarakat.
Sebagai pemerintah desa, pihaknya mengaku sangat terbantu dengan hadirnya kawasan industri karena banyak warga yang mendapatkan kesempatan bekerja.
"Sejak ada KPI, banyak warga kami yang bekerja di sana. Mulai dari tenaga kasar hingga pekerjaan di lingkungan pabrik," ujarnya.
Menurut Herdy, manfaat yang dirasakan masyarakat tidak hanya berasal dari penyerapan tenaga kerja. Kehadiran ribuan pekerja juga memunculkan berbagai peluang usaha baru yang dimanfaatkan warga.
Warung makan milik warga mulai bermunculan. Usaha toko kelontong semakin ramai.
Bahkan, bisnis penyewaan kamar atau kos-kosan juga berkembang seiring meningkatnya aktivitas di kawasan industri.
"Dampaknya tidak hanya dirasakan Desa Sugihmanik. Desa-desa di sekitar kawasan industri juga ikut merasakan manfaatnya," katanya.
Perubahan tersebut secara perlahan menggeser pola ekonomi masyarakat.
Banyak warga yang kini menjalani dua profesi sekaligus, yakni tetap bertani sambil membuka usaha di sekitar kawasan industri.
"Masyarakat sekarang tidak hanya bertani, tetapi juga mulai berjualan di area kawasan industri," jelasnya.
Perkembangan kawasan industri di Sugihmanik juga didukung oleh keberadaan sejumlah perusahaan besar, yakni Polygroup dan PT Saiteng Travel Goods di Kawasan Peruntukan Industri hingga PT Semen Grobogan.
Aktivitas industri yang terus meningkat membuat pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut semakin terasa.
Meski demikian, pemerintah desa masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait penyerapan tenaga kerja lokal.
Herdy menegaskan, pemerintah desa terus berupaya memastikan masyarakat Sugihmanik mendapatkan kesempatan bekerja di perusahaan yang beroperasi di kawasan tersebut.
Menurutnya, banyak warga yang memiliki kemampuan untuk mengisi berbagai posisi, seperti petugas kebersihan, office boy, tenaga penataan lahan, hingga pekerjaan lain yang tidak membutuhkan keterampilan khusus.
"Kami ingin memastikan warga kami bisa bekerja di sana sesuai kemampuan dan klasifikasi yang dimiliki," katanya.
Ia mengungkapkan, hingga saat ini masih ada warga yang belum mendapatkan panggilan kerja.
Namun, kondisi tersebut terjadi karena sejumlah perusahaan belum beroperasi secara maksimal.
Akibatnya, kebutuhan tenaga kerja juga belum sepenuhnya terbuka.
"Kami berharap ketika perusahaan sudah beroperasi penuh, masyarakat bisa lebih banyak terserap," ujarnya.
Bahkan, salah satu perusahaan di kawasan tersebut diproyeksikan mampu menyerap hingga 8.000 tenaga kerja.
Di sisi lain, pertumbuhan kawasan industri juga memunculkan persoalan baru, terutama terkait infrastruktur jalan.
Meningkatnya lalu lintas kendaraan, baik roda dua maupun roda empat, membuat jalan provinsi yang menjadi akses utama menuju kawasan peruntukan industri dinilai sudah tidak lagi memadai.
Pemerintah desa berharap ada peningkatan kualitas jalan, termasuk pelebaran ruas jalan untuk mendukung aktivitas masyarakat dan mobilitas kendaraan yang terus meningkat.
"Harapannya ke depan ada pelebaran dan peningkatan jalan karena arus kendaraan semakin padat," tuturnya.
Dengan perkembangan industri yang semakin pesat, Pemerintah Desa Sugihmanik berharap keberadaan KPI tidak hanya menjadi pusat investasi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (int)
Editor : Admin