RADAR KUDUS - Keputusan Ade Armando untuk mengundurkan diri dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ternyata tidak lepas dari dinamika tekanan politik yang berkembang belakangan ini. Dalam konferensi pers di kantor DPP PSI, Jakarta Pusat, ia mengungkap adanya surat-surat yang dikirim kepada petinggi partai, yang secara terang-terangan menyatakan penolakan terhadap keberadaannya di dalam PSI.
Menurut Ade, surat tersebut ditujukan kepada Ketua Harian DPP PSI, Ahmad Ali. Isi surat itu menyebut bahwa sejumlah pihak tidak akan memberikan dukungan kepada PSI selama dirinya masih menjadi bagian dari partai. Fakta tersebut, kata Ade, menjadi salah satu pertimbangan serius dalam mengambil keputusan untuk mundur.
Ia menilai tekanan tersebut tidak berdiri sendiri. Gelombang kritik dan serangan terhadap dirinya semakin intens setelah muncul laporan ke pihak kepolisian yang melibatkan puluhan organisasi masyarakat. Laporan itu berkaitan dengan dugaan pemotongan video ceramah tokoh nasional Jusuf Kalla.
Ade menyebut, sekitar 40 organisasi atau kelompok masyarakat yang berafiliasi dengan tokoh seperti Din Syamsuddin ikut melaporkannya. Tak hanya itu, tekanan juga datang dari berbagai daerah serta ramai diperbincangkan di media sosial. Ia menilai serangan tersebut tidak lagi bersifat personal, melainkan sudah merembet ke partai tempatnya bernaung.
Dalam pandangannya, situasi ini menunjukkan adanya upaya terorganisir untuk menjatuhkan dirinya sekaligus merusak citra PSI. Ia menduga ada pihak-pihak tertentu yang sengaja membangun opini negatif secara masif untuk melemahkan posisinya dan partai.
Meski demikian, Ade menegaskan dirinya tidak merasa melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan. Ia membantah pernah menghasut, memprovokasi, atau mengadu domba publik terhadap tokoh mana pun, termasuk Jusuf Kalla.
Namun, di tengah tekanan yang terus meningkat dan berpotensi merugikan partai, Ade memilih mengambil langkah mundur. Ia menilai keputusan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral agar PSI tidak ikut terdampak oleh polemik yang menimpanya.
Ade juga mengungkap bahwa hubungan dirinya dengan pimpinan PSI tetap baik dan tidak diwarnai konflik internal. Bahkan, ia menyebut jajaran partai masih menunjukkan dukungan terhadapnya. Meski begitu, ia merasa tidak adil jika seluruh kader harus menanggung konsekuensi dari kontroversi yang melekat pada dirinya.
Langkah mundur ini sekaligus menjadi penegasan bahwa kepentingan organisasi ditempatkan di atas kepentingan pribadi. Ke depan, Ade membuka kemungkinan untuk tetap aktif di ruang publik, namun di luar struktur partai politik.
Editor : Mahendra Aditya