AMARAH tak bisa ditutupi dari raut muka Naryo (nama samaran). Wajahnya merah dipenuhi amarah.
Alasannya, tanpa sebab jelas ia digugat cerai istrinya, Melati (bukan nama sebenarnya).
Kisahnya bermula ketika Melati pulang dari Hongkong. Maklum istrinya jadi tenaga kerja wanita (TKW) sudah lima tahun. Sejak mereka menikah.
”Padahal dia berangkat ke Hongkong tiga bulan setelah kami nikah,” gerutu Naryo.
Saat berpisah pun mereka tetap mesra. Tiap waktu bermesraan lewat telepon maupun video call.
Namun, Naryo mengaku setahun terakhir sifat istrinya berubah. Mulai cuwek. Ditelepon maupun video call tak lagi mesra. Sikapnya dingin.
Sebulan lalu, istrinya tersebut berkabar hendak pulang ke Tanah Air. Ia gembira bukan main.
Namun, saat menjemput di bandara, hatinya bak ditusuk sembilu. Tanpa basa basi istrinya mengutarakan hendak menggugat cerai dirinya.
Tanpa pamit, Naryo langsung pulang. Amarahnya memuncak.
”Ya ndak terima saya. Bilangnya pulang, ternyata malah gugat cerai,” ungkap Naryo.
Mereka tinggal dalam satu rumah. Tanahnya milik Mawar. Sedangkan biaya bangun rumahnya dimodali Naryo.
Ia pun segera pulang dan memanggil tukang. Rumah itu dibongkar. Seluruh perabotannya dikeluarkan.
”Bongkar semuanya. Bawa ke rumah orang tua saya!,” perintah Naryo tegas.
Naryo sehari-harinya padahal juragan ikan di Jepara. Namun diketahui, istrinya kurang bersyukur yang akhirnya memutuskan merantau ke luar negeri.
Selama di Hongkong, istrinya telah selingkuh dengan pria idaman lain yang juga seorang TKI.
Istrinya ternyata rela jadi selingkuhan, karena pria idamannya itu cukup sukses di Negera Seribu Kelenteng itu. (rom/lin)
Editor : Ali Mustofa