NASIB Joko (bukan nama sebenarnya) sungguh tragis. Cinta yang ia berikan kepada Yuni (bukan nama sebenarnya), ternyata hanya bertepuk sebelah tangan.
Yuni yang dikenal sebagai kembang desa, ternyata hanya memanfaatkan kebaikan hati Joko.
Joko sendiri, seorang laki-laki sederhana. Bahkan, wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Namun dalam hal finansial, Joko bisa berbangga.
Ia bekerja sebagai pegawai negeri di kantor kecamatan dan juga seorang pengusaha sukses.
Ia memiliki rumah makan yang cukup ramai dan ladang yang luas ditanami tebu serta ketela.
Di desa, Joko dikenal sebagai sosok terpandang dan dihormati.
Namun, di urusan cinta, Joko selalu gagal. Hubungan-hubungan asmaranya tidak pernah bertahan lama.
Ketika Joko berpacaran dengan Yuni, ia merasa ada yang berbeda. Ia merasa Yuni benar-benar menerimanya apa adanya.
Untuk itu, setelah tiga pekan berpacaran, Joko mulai bersikap royal terhadap Yuni.
Pada awalnya, Yuni tidak pernah meminta apapun dari Joko, tapi Joko yang merasa Yuni tulus, mulai memberikan banyak hadiah.
Ia membelikan Yuni ponsel baru, sepatu, dan kalung emas saat ulang tahunnya.
Selain itu, Joko rutin mengirim uang jajan sebesar satu juta rupiah setiap pekan selama hampir setahun.
Merasa hubungannya serius, Joko pun mengajak Yuni menikah.
Namun, Yuni selalu menghindar dan akhirnya meminta putus dengan alasan Joko terlalu baik dan mereka tidak cocok. Meski berat, Joko menerima keputusan Yuni.
Tak lama setelah putus, Joko mendengar kabar bahwa Yuni dilamar laki-laki lain yang lebih tampan dan kaya dari dirinya.
Perasaan Joko hancur, ia merasa hanya dimanfaatkan selama ini.
”Kadung sayang, tapi malah dimiliki orang lain," keluh Joko dengan penuh kekecewaan. (aua/lin)
Editor : Ali Mustofa