SEBAGAI santri, Aldi takzim dengan abah-nya. Ia mondok di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Blora.
Santri itu mencoba berperilaku baik. Makin baik ketika memiliki maksud lain.
Yakni ingin mendekati anak sang kiainya.
Baca Juga: KH Baidlowi Lasem Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional
Aldi makin rajin mengaji, salat malam, hingga membantu tanpa pamrih dalam setiap urusan pondok.
Ia bahkan tak segan-segan menyiapkan segala kebutuhan sang kiai. Itu dalam rangka PDKT (pendekatan).
Ia berpikir dengan dekat dan berperilaku baik di hadapan kiai, ia kelak mendapatkan restu.
Sebenarnya ia tak pernah sekali pun mendekati anak kiai yang bernama Arum atau biasa dipanggil Ning Arum.
Sebab dalam pikirannya, soal Arum gampang.
Baca Juga: Mengenal Ratna Kusuma, Sosok Kepala Sekolah Termuda di Grobogan yang Diganjar Apresiasi Bupati
Asalkan sang abah merestui, pastilah anaknya mengikuti. Lazimnya tradisi di pondok.
Berkat usaha-usaha itu, Aldi jadi orang kepercayaan kiai. Beberapa usaha pondok pun mulai dipasrahkan ke Aldi.
Termasuk kini urusan mengajar. Ia tampak seperti santri kesayangan. Kemana pun kiai pergi, Aldi selalu yang nyopiri.
Perlahan lelaki itu merasa usahanya berhasil.
Pendekatan ke abah sukses, sehingga membuatnya yakin kelak jika hendak menyampaikan maksud melamar Ning Arum pasti diterima.
Sial, prediksinya meleset. Abah perlahan ternyata sakit. Sakitnya bahkan menahun. Sampai suatu hari ajal menjemput sang kiai.
Sampai saat terakhir itu, sang kiai tak pernah menyampaikan apa pun ke anaknya.
Lebih parah lagi, Aldi juga tak pernah menyampaikan maksudnya ke sang kiai maupun ke Arum.
Ia berpikir waktu masih panjang. Masih perlu waktu untuk makin memantapkan diri sebelum menyampaikan itu.
Alhasil, sampai akhir hayat abah, keluarga kiai tak pernah tahu maksud tersembunyi dari Aldi.
Hingga akhirnya setahun setelah kepergian pengasuh ponpes itu, pihak keluarga berencana menjodohkan Arum dengan Gus Alim, putra kiai di ponpes di Grobogan.
Niat itu tak diketahui Aldi. Ia tahu saat Gus Alim sudah melamar Arum.
Saat itu Aldi bimbang. Ia tak tahu harus berbuat apa. Menyesali langkahnya yang lamban.
Merasa usahanya mengabdi di ponpes itu sia-sia.
Akhirnya, karena tak kuat menahan rasa sakit hati, ia memilih boyongan.
Pergi meninggalkan pondok tanpa pamit. (tos/lin)
Editor : Ali Mustofa