RUMAH tangga Ani (nama samaran) dengan Yanto (nama samaran) harus berakhir. Ani merasa suaminya itu tak becus jadi kepala keluarga.
Pasalnya, uang yang diberikan dari penghasilannya, tak sebanding dengan apa yang diperlukan Ani. Sementara Ani sendiri, bisa mencukupi kebutuhannya.
Kedua pasangan itu sebenarnya telah menikah sekitar lima tahun lalu.
Sejak sebelum menikah, Ani seorang pegawai swasta. Sementara Yanto, seorang pekerja serabutan.
Di masa pacaran, Ani tak mempermasalahkan itu. Hingga akhirnya keduanya memutuskan menikah.
Namun, kisah itu berubah setelah pernikahan berjalan empat tahun.
Tepat beberapa bulan setelah Ani diangkat pangkatnya menjadi seorang manajer dari semula pegawai biasa.
Perjalanan awal pernikahan mereka sebenarnya dalam tiga tahun pertama berjalan biasa.
Yanto tetap memiliki penghasilan walaupun pekerja serabutan.
Jumlahnya memang tak sebanyak penghasilan Ani, tapi ia konsisten memberikan sebagian besar penghasilannya itu ke istrinya.
Sementara Ani, sebenarnya sejak tiga tahun pernikahan, telah terkontaminasi rekan-rekannya di tempat kerja.
Di mana, mereka mulai bisa memiliki mobil, hingga sering shopping. Itu hal yang sangat jarang diperhatikan untuk ia dapat dari suaminya.
Sebab itu, penghasilannya yang lebih besar dari Yanto, membuatnya berani mengkredit mobil tanpa sepengetahuan Yanto.
Itu jadi awal mula keretakan hubungan asmara mereka.
”Saya sebagai lelaki seperti tidak dianggap ada,” ujar Yanto.
Ani keukeuh kalau itu merupakan haknya karena membeli dari hasil kerjanya.
Yanto pun hanya bisa pasrah. Ia paham penghasilannya tidak mencukupi yang diinginkan Ani.
Puncaknya, baru beberapa bulan diangkat jadi manajer, Ani nekat membeli satu unit rumah baru tanpa konsultasi dengan Yanto.
Padahal, nilai rumah itu cukup fantastis. Sejak itu, Yanto merasa dirinya tak lagi penting di mata istrinya.
Akhirnya ia putuskan untuk menggugat cerai istrinya tersebut. (rom)
Editor : Noor Syafaatul Udhma