MALANG nasib Rudi (nama samaran). Rumah tangganya berantakan. Ia sebelumnya tak pernah berpikir demikian. Sebab, istri yang dinikahinya hasil dari seleksi yang ketat.
Pilihannya pada Jumi (bukan nama sebenarnya) sudah melewati tahapan yang berlapis-lapis. Sebab, lelaki itu menginginkan istri yang dewasa, mandiri, dan strong.
Standar itulah yang membuatnya sulit menemukan perempuan yang pas. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Jumi.
Perempuan itu sudah teruji. Lantaran hidup sebagai janda dengan dua anak. Usianya juga lima tahun lebih tua dari Rudi.
Namun, tak ada manusia yang sempurna. Di balik sifat-sifat baik Jumi, ia memiliki beberapa kekurangan. Yang hal-hal itu tak diantisipasi Rudi.
Lama-lama Jumi makin menunjukkan sifat aslinya itu. Tahun demi tahun, ia makin keras. Suka mengatur man merasa superior. Lebih-lebih, gajinya di atas suaminya.
Acapkali saat pulang kerja, Rudi langsung diminta mengurus kedua anaknya. Sedangkan Jumi enak-enak istirahat.
Di sisi lain, soal keuangan, lelaki itu juga tak punya daya. Semua gajinya harus disetor ke rekening istri. Tanpa sisa.
Alhasil Rudi tak punya daya untuk mandiri. Sekadar ngopi dengan teman saja kesulitan.
Ya, kepala rumah tangga tersebut, seolah dikendalikan sang istri. Bahkan bila boleh jujur, kepala rumah tangganya justru Jumi. Bukan lagi Rudi.
Hal itu sudah berjalan lima tahun ini. Tampaknya, Rudi sudah habis kesabaran. Ia jengah dan perlahan tak mau tunduk pada sang istrinya.
Hingga akhirnya, tanpa mengobrol dan menyampaikan keluh kesahnya itu, ia pergi dari rumah. Memilih meninggalkan sang istrinya. (tos/lin)
Editor : Ali Mustofa