SALAH satu hal menyakitkan yang tidak ada obatnya adalah teman makan teman. Hal itu dirasakan betul oleh Jono (nama samaran).
Istrinya digondol oleh temannya sendiri yang sudah dianggap bestie alias konco kentel.
Rumah tangga yang dibina Jono hancur dihantam ”badai”. Tidak lain badai itu temannya sendiri.
Yuni, Istrinya (bukan nama sebenarnya) kepincut dengan teman akrab sang suami, Parno (nama ganti).
Parno memang kurang ajar betul. Dia yang sudah banyak dibantu Jono, malah akhirnya menikam dari belakang.
Keduanya merupakan teman kerja. Kadang menyelasaikan kerjaan dilakukan di rumah Jono.
Parno sering diberi makan dan juga terkadang menginap di rumah temannya itu, saat mengerjakan tugas sampai larut malam.
Hal itu membuat Parno sering bertemu dengan Yuni.
Tidak jarang terjadi obrolan-obrolan ringan dengan diselingi canda tawa antara keduanya.
Juga saling melempar senyum saat bertemu. Hingga perhatian-perhatian kecil yang memantik rasa-rasa terpendam.
Hingga suatu saat, Jono dan Yuni mulai sering uring-uringan.
Pertengkaran kecil sering terjadi dengan intensitas yang lumayan sering.
Puncaknya, Jono memergoki chattingan-chattingan mesra antara istrinya itu dan Parno. Itu ditemukan Jono tidak sekali atau dua kali.
Itulah yang membulatkan tekad Jono untuk menyudahi kisah cintanya dengan sang istri.
”Kurang ajar sudah ditolong karena saya anggap sebagai bestie, malah menghianati di belakang,” kata Jono menyesali hubungan akrabnya dengan Parno. (aua/lin)
Editor : Ali Mustofa